Pages

Wednesday, January 7, 2009

bakat seni apa yang saya punya?

tiba-tiba pertanyaan ini melintas masuk ke dalam kepala saya. yang saya tahu otak manusia terbagi dua bagian: bagian kiri dan bagian kanan. bagian kiri yang berhubungan dengan semua berbau akademis atau bahasa kerennya kognitif, sedangkan bagian kanan yang berhubungan hal-hal diluar itu termasuk seni. nah, saya yakin otak saya lengkap., alias bagian kiri punya, bagian kanan pun punya. cuma, kalo saya memang memiliki kedua bagian tersebut secara utuh, lantas bentuk atau jenis seni yang bisa saya banggakan kok rasanya tidak ada ya?

mulai dari yang paling sederhana:
pertama: menyanyi
suara standar untuk jadi penyanyi (seperti anggun cipta sasmi). dari bayi, nyanyian telah diperkenalkan kepada kita. saat sang ibu menyanyikan lagu ninabobok. ketika TK dan SD kelas 1-2, kita menyanyi seolah-olah punya slogan tiada hari tanpa menyanyi. bahkan semua lagu daerah bisa dinyanyikan dengan baik. tapi sekarang, saat umurku sudah masuk kategori harus punya ktp dan npwp, suaraku kalau mau memuji adalah pas-pasan, kalo musti jujur, ya di bawah standar banget. meski begitu saya tetap masuk golongan orang2 yang paling semangat saat diajak karokean (kepedean banget yah).

kedua: menggambar.
yah, yang ini sih lewat. seingkat saya jaman TK-SD-SMP, gambar saya mentok di pemandangan alam (gunung-jalan-sawah-matahari-awan-rumah) yang sangat standar dan gambar ayam kurus dengan masing-masing kaki berjari tiga.

jaman SMA, saya dengan jujur mengaku bahwa pada pelajaran seni rupa dan punya pr menggambar objek keranjang+buahnya dalam 3 dimensi, saya minta ibu saya yang menggambar. saat diserahin keesokan harinya ke ibu guru untuk di cek, sang ibu guru melihat saya dan lalu gambar saya sambil tetap memicingkan mata.nya dengan datar sang ibu guru berkomentar, "warna anggurnya terlalu gelap. lain kali pake warna merah".

waktu itu aku diam saja. diam karena yang penting pr saya selesai. kedua karena tidak ketahuan kalau itu gambaran ibu saya. ketiga karena waktu itu saya tidak tahu kalau warna anggur ada yang hijau, merah dan ungu pekat (seperti yang digambar ibu saya). maklum, wong cilik, gaji bapak saya cuma cukup untuk beli pisang susu. dan buah anggur yang dijual di pasar tradisional sebagian besar berwarna ungu pekat.

saat masuk kuliah, gambar menggambar kembali menemui saya., khususnya dalam mata kuliah silvika dan dendrologi. di setiap praktikum kami harus menggambar beragam daun, biji dan buah dari jenis-jenis tanaman kayu. awalnya saya menyemangati diri saya dengan keras, "kamu bisa, mil! masak menggambar daun yang bentuknya gitu-gitu aja gak bisa". tapi ternyata lecutan semangat ini tidak ampuh sama sekali. gambaran demi gambaran membuat saya makin menderita. rasanya berat sekali menggerakkan pensil dan menkopi contoh daun yang tergolek tanpa daya di depan hidung saya.

pada minggu ketiga praktikum, dwi teman saya dari ngawi, mengomentari gambar saya, "mila gambar kamu kok aneh begitu??" saya melihat gambar saya sekilas lalu merasa lemas., ya gimana lagi wi? emang gambaran saya cuma bisa seperti ini". mungkin waktu itu muka saya terlihat sangat memelas, sehingga sejurus kemudian tanpa saya duga sama sekali si dwi dengan gemesnya mangambil buku praktikum saya dan berkata dengan logat jawanya yang kental, "iih...shini tak ghambbharin ajah..".
tanpa berkata apa-apa saya hanya bisa melihat tangan dwi bergerak cepat dengan pensil dan penghapus di atas buku praktikumku.

saya memang kadang bersedih karena kenyataan diriku yang tidak bisa menggambar, padahal ibu-kakak-adikku bisa menghasilkan gambar yang bagus.
tapi sedetik yang lalu, saya tahu saya tidak usah bersedih lagi.
seorang dewi penyelamat telah diturunkan untukku. ooh.., betapa ini suatu berkah sekaligus kurasakan sebagai bentuk keadilan Tuhan YME kepadaku.

semenjak itu setiap kali praktikum, saya hanya menunggu dwi menyelesaikan gambarnya, lalu dengan memasang senyum saya yang paling manis saya menyerahkan buku saya ke dwi untuk digambari. ini membuat saya tersenyum lebar seperti ini :D:D:D

ketiga: bermain alat musik
yang ini apalagi. gitar aja gak bisa. cuma bisa aksi pura-pura aja: pegang gitar pakai tangan kiri biar disangka kidal dan terlihat keren.

perbandingannya: adekku si bontot laki satu-satunya adalah pemain bass yang cukup ok. saat sma kelompok bandnya menggondol juara dua kompetisi band sekolah se kota makassar. band mereka langsung dikontrak oleh TELKOM untuk manggung disetiap acara TELKOM.
kalau diteruskan, mungkin band adek saya bisa sejajar dengan D"massive. tapi adek saya memutuskan berhenti ngeband usai kompetisi tersebut. dan sejak november tahun lalu dia pindah ke jayapura karena dipinang BRI.

keempat: kaligrafi.
boro-boro. malah tulisan saya sering dikira tulisan anak kelas 4 SD padahal itu baru tulisan biasa. saat masih di TPA (taman pendidikan alquran), kakakku dengan seenaknya mengerjakan kembali pr kaligrafi saya yang baru setengah selesai. waktu saya tanya kenapa dia lakukan itu dan tanpa pamrih, dengan ekspresi sebel dia berkata, "karena tulisanmu jelek, bikin malu aja. ini kaligrafi, jadi harus beda dengan menulis arab biasa!".

bukannya sedih karena disepelehin dengan semena-mena, saya malah tersenyum senang, "hehe... asiik gak perlu susah-susah ngerjain pr., yes yes yesss!" seruku dalam hati lalu menggeloyor pergi.

kelima: menulis.
untuk yang satu ini, kalau memang saya punya bakat, pasti karya saya sudah dicetak dan beredar seperti ciklit dan teenlit yang menjamur di semua toko buku.

sampai sekarang setiap kali menulis, saya kadang teringat beberapa lembar tulisan curahan hati saya waktu SD kelas 5 ditemukan oleh kakak saya dan ditertawai habis-habisan olehnya. salah saya juga sih, masak diary begituan ditulis di buku yang sudah tidak utuh dan dilempar begitu saja ke atas kasur., terang aja langsung dimangsa oleh kakakku yang juga adalah teman sekasurku.

tapi yang membuat saya sakit hati bukan karena ketidaksopanan kakakku melanggar privacy adiknya sendiri, melainkan tawa kakakku yang sepertinya puas banget. bussseet.... emang tulisanku hancur banget gak karu-karuan ya? perasaan saya cuma tulis disitu kalau saya sebel karena di hari pertama masuk sekolah baru, kepala sekolah menuduh saya belum mandi sambil telunjuknya mengarah ke muka saya dan berkata, "itu., beleknya masih nempel di mata kiri kamu.."...

keenam
....

rasanya saya tidak perlu melanjutkan menyebut jenis seni yang lain., karena seni yang dasar dan banyak dibisai oleh orang lain saja, bakat saya tidak cukup menyebutnya dengan nol, tapi lebih tepat minus. sepertinya saya diberi jatah oleh Tuhan YME sebagai penikmat seni, bukan pelaku seni. dan saya dengan jujur mengakui bahwa saya cukup bahagia dengan jatah itu.


p.s. belek=kotoran mata. biasanya selalu ada saat bangun tidur

No comments:

Post a Comment