Pages

Saturday, May 10, 2008

menyikapi UAN dari sisi lain

sejak pertengahan bulan maret, diskusi radio semakin ramai dengan topik UAN. tidak hanya standar kelulusan yang meningkat dari tahun lalu dari 5.00 menjadi 5.25, tapi juga kekhawatiran akan mental siswa yang tidak siap menghadapi sistem ujian yang sejak tahun 2003 menggantikan sistem ujian ebta-ebtanas ini. memang wajar ketika fokus masyarakat adalah kesiapan mental para siswa menghadapi ujian akhir nasional. sejak diberlakukan pertama kali di tahun 2003, UAN langsung menjadi momok tidak hanya bagi para siswa, tapi juga orangtua, guru dan pemerintah daerah, hal ini dikarenakan soal-soal UAN yang dianggap lebih sulit dengan syarat kelulusan yang berat. terbukti, banyak siswa yang dinyatakan tidak lulus, termasuk siswa yang dikenal pandai di kelas pun takluk, bahkan satu sekolah di papua pada UAN tahun lalu para siswanya tidak ada yang lulus. ada yang beranggapan syarat kelulusan dipatok terlalu tinggi, namun menteri pendidikan dan depdiknas menyatakan bahwa standar kelulusan Indonesia masih lebih rendah dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

tahun ini untuk kelima kalinya UAN dijadikan gerbang akhir yang harus dilewati oleh para siswa SMU dan SMP untuk dapat dinyatakan lulus. selain standar kelulusan yang mengalami perubahan, jumlah mata pelajaran yang diujikan pun juga bertambah. para siswa SMU telah lebih dahulu melaksanakan UAN, sedangkan siswa SMP baru akan bertarung hari senin besok (5 Mei). banyak cerita dari pelaksanaan UAN tahun ini; ada cerita yang sama dengan cerita tahun lalu, yaitu beberapa siswa mengundurkan diri dari UAN, dan ada juga cerita yang menghebohkan, seperti penangkapan 17 guru SMU di Sumatra Utara oleh pasukan detasemen 88 anti terror. penangkapan dilakukan ketika terdengar kabar indikasi kecurangan di sekolah tersebut. ketika ada indikasi kecurangan ini, yang lebih dibahas adalah (1) UAN yang dirasa sangat berat sehingga guru merasa perlu membantu siswanya agar bisa lulus, (2) penangkapan yang tidak wajar karena dilakukan oleh pasukan anti terror, (3) ketidakadilan dan simpati atas perlakuan terhadap guru.

yang sama sekali tidak disentuh adalah kenapa para siswa kita bermental lemah, kurang percaya diri terhadap kemampuan mereka? tahukah mereka bahwa kecurangan yang dilakukan itu adalah hasil didikan yang keliru? yang seharusnya tidak boleh hanya ditimpakan kepada institusi sekolah bernama smu dan smp beserta guru-guru yang mengajar di dalamnya?

setiap sekolah pasti memiliki bagian konseling, yang tujuan sebenarnya adalah mengurusi masalah psikologis siswa. sayangnya, bagian konseling sekolah lebih identik terhadap pembinaan siswa-siswa yang bermasalah: berantem, malak junior, dll.. sehingga fungsi utamanya malah kabur. meskipun tim bulutangkis punya mentor-mentor khusus yang membantu memantapkan mental para atlit, manajer tim uber Indonesia, Susi Susanti, masih tetap was-was dengan kondisi mental para atlit tim uber. apalagi para siswa yang sudah belajar selama 3 tahun lalu mengetahui nasib kelulusannya hanya ditentukan oleh ujian selama 3 atau 5 hari? tentu saja mereka extra tegang. seharusnya setiap sekolah juga punya mentor-mentor khusus untuk menyiapkan mental siswa-siswa kita. semua siswa, tidak hanya yang bermasalah, tidak hanya yang memiliki kemampuan pas-pasan.

menyebut guru, membuat aku bertanya, sebenarnya guru yang kita miliki adalah benar guru? di India, guru tidak sekedar orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan mengajarkannya kepada para muridnya, tetapi guru juga mengajarkan bagaimana hidup itu harus memiliki prinsip dan bagaimana menjalani hidup secara disiplin. selain itu, guru juga berperan sebagai penuntun spritual hidup..... ketika kita mengadopsi kata ini di Indonesia, apakah kata ini masih sama maknanya?

seorang pengamat pendidikan mengatakan, guru sekarang hanya sekedar mengajar, tapi lalai mendidik.

semuanya berpulang pada dasar, pendidikan dasar. kalau pendidikan dasarnya baik, niscaya bibit-bibit siswa yang dihasilkan pun juga baik. mutu pendidikan di Indonesia belum sebaik yang diharapkan karena terbentur oleh masalah klasik: kesejahteraan guru, terutama guru-guru yang bertugas di daerah pedalaman, yang disinyalir sebagai satu faktor penghambat seorang guru tidak dapat memberikan pengajaran+pendidikan yang terbaik karena harus memikirkan cara menambah penghasilan. mutu guru itu sendiri... sekarang sudah ada sertifikasi.. insentif yang dijanjikan diberikan kepada guru-guru yang lulus sertikasi belum berjalan dengan baik. dibeberapa daerah, insentif belum diterima sama sekali.

kalau sejak ditanamkan kejujuran dan keyakinan dan penghargaan atas kemampuan diri sendiri, distribusi soal tidak perlu lagi dikawal secara ketat oleh satuan kepolisian, tidak perlu lagi ada cerita siswa sudah datang ke sekolah sejak jam 6 pagi demi mendapatkan kunci jawaban soal. sebenarnya ketika ada guru yang membantu siswanya, bukankah itu secara tidak langsung menunjukkan ketidakpercayaan guru tersebut kepada kemampuan siswanya? aku merasa sangat kasihan kepada siswa-siswa ini.

pada akhirnya, para siswalah yang menjadi korban; atas kelalaian pemerintah terhadap kesejahteraan guru, dan ketidakpercayaan dari guru+orangtua dan yang terutama, ketidakpercayaan pada diri sendiri.

jadi, keliru kah pemerintah kita memberlakukan UAN? menurutku tidak juga. evaluasi tetap diperlukan untuk mengetahui hasil pembelajaran kita selama ini. tapi, kalau UAN dijadikan hanya satu-satunya gerbang evaluasi bagi siswa, menurutku itu juga tidak bijak dan cenderung tidak fair. Kedepannya, UAN musti dilengkapi dengan evaluasi yang diberikan dari setiap sekolah, yang tentunya berbeda antara sekolah yang di Jakarta misalnya dengan sekolah yang di Kupang. Nilai akhir siswa ditentukan dari nilai rata-rata kedua evaluasi tersebut. mungkin cara ini yang lebih baik.., bagaimana menurut anda?


No comments:

Post a Comment