Pages

Tuesday, October 2, 2012

Rumah Madu & Sepeda Warisan

penasaran ga sih aku tinggal dimana, tempatnya gimana dll? hahah lagaknya macam artis aja. tapi meski bukan artis, tetap aku akan berbagi cerita =D

sarang kecilku

jadi, setahun ke depan aku tinggal di rumah milik seorang dosen fakultas bisnis di Kent Uni. alamat rumahnya 17 Honeywood Close Canterbury CT1 1XF, Kent, United Kingdom. kalau nyari di Google Earth pasti ketemu deh. karena terletak di jalan Honeywood, maka rumah ini kunamakan Rumah Madu :-)  rumah ini punya 4 kamar tidur; tiga di atas dan satu di bawah. kamarku di atas dan berukuran paling kecil.. semua bagian dalam rumah kecuali dapur, dilapisi karpet. karpetnya baru diganti jadi masih terasa sangat empuk dan hangat. ini adalah internasional house karena kebetulan keempat orang yang tinggal di rumah ini berasal dari negara yang berbeda; aku dari Indonesia, Grace dari Inggris, Verena dari Jerman dan Dominic dari Italia. Diantara keempat ini, tiga orang mahasiswa; satu mahasiswa tingkat S2 yaitu aku di Uni Kent dan dua mahasiswa tingkat S1 yaitu Grace dan Verena di Canterbury Christchurch University dan sisanya adalah Dominico yang kerja di restoran Italia di pusat kota. kalau disini tinggal serumah campur perempuan laki sih udah lazim. sebenarnya di Indonesia juga bukan hal baru sih, kost-kostan campur udah banyak, terutama di Jakarta.

njemur di halaman belakang

rumah madu tidak terlalu besar tapi cukup untuk hidup yang nyaman. wc ada dua, kamar mandinya ada satu yang gabung dengan wc di atas. ada dapur yang lega lengkap dengan peralatan makan minum dan masak, ada kulkas yang gede, ada ruang makan, dan ada halaman belakang kira2 ukurannya 10x15 meter, cukup lah bwat acara bakar2 jagung atau ayam di kala musim panas ;-) selain itu ada gudang tempat aku nyimpan sepeda. disini kalau nyepeda ongkosnya agak mahal, mana ga ada bengkel seperti di Jogja.., duh aku rindu pada bengkel sepeda langgananku yang depan McD...
ongkosnya mahal karena musti ada lampu depan belakang trus kalau bisa kita pakai very visible clothes., itu lho rompi macam yang dipakai pekerja di pabrik warna hijau atau oranye mentereng. trus musti ada kunci juga., jadi kalau pergi kemana gitu bisa diamankan di tempat sepeda atau di tiang, tiang apa aja yang tersedia. nah, karena sepeda ini ga ada keranjang, mau aku pasangi keranjang., ehh jebule mahal banget, soalnya ga bisa dipasang di depan, musti di belakang, sementara kalo di belakang musti dipasangi boncengan dulu. boncengannya aja mahal, ga ada yang di bawah 10 Pounds, belum lagi keranjangnya..,dan belum lagi biaya masangnya ya terpaksa klo ngepit tasnya diangkut di bahu meski berat...beli keranjangnya nanti2 aja. sepedanya warisan dari mas Lukman, yang juga dapat warisan dari mahasiswa Indonesia sebelumnya. si sepeda belum aku kasih nama.., belum nemu yang pas, mungkin karena tidak setiap hari aku pakai jadi hubungan kami belum dekat., sehingga belum tercipta chemistry, ahahahaha..

pesan dari petugas pengangkut sampah

baik, kembali ke Rumah Madu. rumah ini tidak dilengkapi telepon rumah. tapi ya di zaman handphone ada di setiap genggaman tangan manusia, telpon rumah udah ga banyak dimiliki deh. gantinya internet dong yang aktif 24/7 sepanjang hari sepanjang tahun dan kami masing2 bayar iuran 5 Pounds tiap bulan. yup, internet memang murah disini dan kenceng! bulan pertama disini aku langsung download The Simpsons!., (upss ketaun deh malah nonton Homer dkk bukannya belajar =P). seperti rumah di belahan bumi utara pada umumnya, rumah ini dilengkapi dengan heater atau penghangat di kala suhu sudah dingin. setiap kali keluar rumah musti ingat untuk bawa kunci soalnya begitu pintu rumah ditutup dari luar maka otomatis terkunci. ga sama seperti di Indonesia yang bisa pinjam obeng di tetangga bwat nyongkel lubang kunci, disini klo terkunci gitu musti dikerjakan sama tukang khusus dan ongkosnya aje gile... ada temannya temanku yang pernah terkunci dari luar dan harus buka paksa pintu setelah itu bayar 180 Pounds atau hampir 3 juta rupiah! edyaaan. jadi, jangan sampai lupa bawa kunci rumah dan handphone. kalau kebetulan terkunci, bisa telpon teman rumah atau yang punya rumah supaya dibukain pintu. 

dua surat pertama

disini rumah-rumah semuanya pintunya tertutup, ga sama macam di Indonesia yang masih membuka pintunya depan ataupun samping/belakang jadi bisa menyapa tetangga yang lewat atau sekedar berbagi berita. jadi satu sama lain pasti saling kenal. disini? udah sebulan juga belum pernah tuh aku ngeliat tetanggaku siapa aja. masing-masing asik dengan dunianya sendiri. aku jadi kangen rumah, kangen denger suara ibu-ibu yang asik cerita sambil belanja di gerobak sayur-mayur..


No comments:

Post a Comment