Pages

Saturday, April 26, 2008

silent tsunami

"today the world is facing silent tsunami" says FAO describing the food crisis that is getting worse. harga minyak yang terus naik tak tertahankan sampai ke level 118 US$, harga pangan (jagung, beras, gandum, terigu, dll) yang mengikuti trend kenaikan minyak mentah, adalah dua pemicu utama tingginya harganya pangan, yang semakin tidak terjangkau oleh tangan-tangan rakyat, khususnya rakyat di negera berkembang.

thailand, satu dari negara pengekspor beras terbesar di dunia, sebelumnya mengatakan akan menghentikan ekspor berasnya mennyusul krisis pangan yang melanda seluruh bagian di dunia, tapi kemudian mendapat kecaman dari FAO, karena penghentian ekspor akan membuat penduduk di Afrika makin menderita, karena Afrika sangat tergantung pada supply beras dari Asia.

seharusnya dimasa-masa seperti ini, para petani kita bisa mendulang emas. tapi apakah seperti itu keadaannya sekarang? statistik yang diberikan oleh TIME menunjukkan tingkat produksi beras Indonesia masih lebih rendah dibanding tingkat konsumsi masyarakat, yang berarti kekurangan ini mau tidak mau harus ditutupi oleh beras impor dari negara lain. harga beras memang mengalami peningkatan signifikan, tapi ini tidak otomatis membuat masyarakat petani menjadi jauh lebih untung karena sebagian besar petani menjual berasnya kepada tengkulak, yang sejak zaman prasejarah sampai sekarang sama sekali tidak pernah berpihak pada kesejahteraan petani.

siang ini di trijaya ada talkshow yang membahas tentang krisis pangan. disini terkuak bahwa subsidi/bantuan produksi yang diberikan oleh pemerintah kepada petani memiliki kualitas buruk; mulai dari bibit padi sampai ke pupuk. sangat mengenaskan! kenapa pemerintah kita ini begitu tega memberi subsidi yang kualitasnya jelek? ini seperti mengejek saja! tidak beras ataupun bibit, sampai pupuk pun yang merupakan subsidi semuanya berkualitas jelek. mental seperti apa ini? kenapa tega memberi yang jelek-jelek kepada rakyat sendiri?

aku teringat kepada kakak ayahku di kampung sana di pulau sulawesi yang menjual semua hasil tani berkualitas baik, sementara yang dikonsumsi sendiri adalah yang berkualitas rendah? aku tidak habis berpikir, kenapa tidak bisa menghargai hasil keringat, jerih payah sendiri setelah menggarap sawah dengan mengkonsumsi beras yang kualitasnya rendah? ini pasti karena ajaran pemerintah. bagaimana rakyat bangsa ini bisa memiliki nutrisi yang baik kalau semua produk yang berkualitas dijual keluar? malnutrisi dimana-mana karena ajaran pemerintah yang keliru. sudah pasti itu!

sangat berbeda dengan negara perancis misalnya. yang kebijakannya mengharuskan pohon dengan kualitas bagus tidak boleh dijual, ditebang, karena pohon-pohon berkualitas prima ini dimaksudkan sebagai pohon benih. sedangkan yang bisa dijual adalah pohon-pohon dengan kualitas lebih rendah.

ok, memang secara logika kita cenderung akan menjual barang-barang yang berkualitas tinggi agar harga jualnya pun juga tinggi. tapi, seperti yang dilakukan di perancis, karena yang dijual semua adalah yang berkualitas rendah, lama kelamaan, stok pohon berkualitas rendah akan habis terjual walaupun dengan harga tidak terlalu tinggi. yang penting dia habis terjual dan sekarang yang tersisa adalah pohon-pohon yang berkualitas tinggi saja. sehingga, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun yang diekspor semuanya adalah yang berkualitas tinggi, and everybody wins!!

apakah kita tidak bisa berpikir se stragis ini? jangan selalu ingin yang instan. anggaran negara terbesar pada sekto-sektor lain tapi bukan pendidikan. apa kita tidak bisa belajar dari negara jepang atau rusia yang menginvestasikan anggarannya pada sektor pendidikan? hasilnya memang tidak bisa kelihatan dalam waktu 5-10 tahun. tapi pendidikan yang dibenahi dari dasar akan mampu membawa negara ke kondisi yang jauh lebih baik. sayangnya pemerintah lebih suka mengalokasikan anggarannya ke pertumbuhan ekonomi, yang seringnya tidak bisa digunakan sebagai representasi kesejahteraan seluruh rakyatnya, karena yang diurusi hanyalah ekonomi makronya. negara swedia pada tahun 1969 mengalokasikan 28% dari total anggaran pendapatan dan belanja negaranya untuk sektor pendidikan. sekarang, hampir 40 tahun kemudian, indonesia baru mengalokasikan 15% dari anggaran untuk pendidikan, itupun bangganya setengah mati.

sekarang pak sby menghimbau kepada masyarakat agar tidak terlalu khawatir dengan krisis pangan ini. gimana gak khawatir pak, gak ada krisis aja, di indonesia tetap krisis, raskin yang diberikan selalu berkualitas rendah. sekarang dengan krisis pangan dimana-mana, ya apa keadaan kita kemudian tidak lebih parah? bapak bisa saja berkata agar semuanya tenang, tapi apakah bapak pernah sidak lah istilahnya, tapi tanpa membawa gerombolan dan disorot tv, melihat langung raskin yang dibagikan? kalau bapak ditutup matanya dan disuapkan nasi dari raskin, saya kira bapak akan mengerti penderitaan dan ketidakberdayaan rakyat bapak.

apakah pak sby pernah merasa khwatir akan makan apa bapak dan keluarga bapak keesokan harinya? aku yakin tidak. karena sebagai presiden, pasti bapak dan keluarga bapak menerima semua hasil bumi yang terbaik. kami ikhlaskan itu karena sebagai rakyat, kami ingin melihat pemimpin bangsa kami selalu dalam keadaan sehat dan prima, agar mampu memimpin bangsa ini dengan baik dan mensejahterakan rakyatnya, dan untuk itu, harus mendapatkan yang terbaik. tapi dalam keadaan prima itu, pernahkah bapak merenungkan dan membayangkan sekian juta rakyat bapak yang setiap malam dalam hidupnya diterjang kekhawatiran akan makan apa mereka dan keluarganya keesokan harinya?

kami, bangsa indonesia tidak membutuhkan presiden, yang kami butuhkan adalah pemimpin yang baik, yang betul-betul memperhatikan kehidupan bangsanya.

No comments:

Post a Comment