Pages

Tuesday, April 8, 2008

hospital resident

seminggu terakhir ini aku menghabiskan sebagian besar waktuku dirumah sakit sardjito, bukan karena menjalani perawatan disana melainkan menungguin ade, teman kosku yang tanggal 2 april kemarin dirampok didepan kampusnya sendiri, fisipol ugm. bukan kejadian umum memang, tapi musibah siapapun tidak ada yang mampu menolak. karena musibah itu, ade musti dirawat dan dioperasi, karena luka yang disebabkan oleh sang perampok.

aku diwaktu itu sedang "mengejar" pak djuwantoko, dosen pembimbing skripsi untuk mengurus pendadaran. karena sudah tidak ada kuliah lagi, jadi aku yang paling sering nginap dan ngurus keperluan ade. karena itulah pada suatu waktu aku merasa bahwa aku sangat familiar dengan rumah sakit sardjito ini, dinding-dindingnya, baunya, keramiknya, tangganya, perawatnya, orang-orang yang berseliweran disini baik itu pasien maupun para dokternya. rasanya aku mengenal semua wajah-wajah itu, like i have been here forever..

berada disini juga membuatku teringat akan cita-cita spontan antara aku dan yuli. kami berdua sama-sama didorong setengah mati oleh keluarga untuk masuk kedokteran, tapi kami menolak dengan alasan otak kami gak mampu untuk belajar kedokteran, "terlalu berat, terlalu susah. kami mungkin bisa masuk, tapi keluar dari fakultas kedokteran, kami ragu dan tidak bisa menjamin". walaupun dari segi style, kayaknya kami bakalan jadi dokter yang keren dengan jas putih itu. karena gagal menjadi dokter, lalu kami berdua bercita-cita agar suami kami nantinya adalah dokter.

aku mendapati diriku semakin hari semakin iri melihat para dokter senior dan dokter muda (coass) yang nampak gagah dan keren dalam balutan jas putih kebanggaan itu berseliweran didepan mataku. kemudian dengan sombongnya aku berkata pada diriku sendiri, "kalau aku jadi masuk kedokteran, aku pasti sekeren mereka, bahkan mungkin lebih keren". teringat jaman semester 1 dan 2 saat kami masih wara-wiri ke kampus mipa untuk praktikum kimia dan fisika. banyak teman yang datang kepadaku dan mengatakan, "mil., kamu cocok banget pake jas praktikum, persis kayak dokter!" saat itu aku cuma nyengir, respon atas perkataan mereka.

"ade aryani" panggilan itu mengalihkan mataku dari sekelompok dokter muda yang berdiri tidak jauh dari depanku, sekaligus membuyarkan lamunanku yang sesaat itu. urusan administrasi dan tagihan biaya perawatan ade sudah kubereskan. segera kubawa berkas itu naik ke lantai 4, tempat ade dirawat. banyak kelegaan yang kurasakan; lega karena ade sudah boleh pulang, lega karena tagihannya tidak sebanyak perkiraan kami, lega karena aku sudah bisa menghentikan diri dari status hospital resident, lega karena bisa terhindar dari pemandangan jas putih yang mulai menyilaukan mata dan hatiku. seiring langkahku meninggalkan rumah sakit, kujejalkan satu pemikiran yang segera kusempal agar tidak jatuh keluar; bukan merk, bukan bungkusnya yang membuat kita menjadi orang baik dan memiliki hidup yang baik pula, tapi manfaat yang mampu kita berikan kepada orang lainlah yang membuat semuanya lebih berarti. "sebaik-baik orang adalah dia yang mampu memberi manfaat bagi orang lain".

No comments:

Post a Comment