Pages

Monday, September 1, 2014

Mengedit tulisan

Seperti biasa sepulang dari perjalanan luar kota atau luar negeri, inbox email penuh dengan email-email yang belum dibaca dan direspon. Hari kedua menyusuri barisan email-email yang belum direspon tersebut sekembalinya saya di kantor, tibalah pada satu email yang sebenarnya masuk sebelum saya berangkat. Namun karena saat itu saya sedang fokus mengolah data landsat dan mempersiapkan perjalanan dinas, jadilah email tersebut tidak pernah saya baca. Dan tadi ketika baru sempat membaca serangkaian respon dari email tersebut saya menyadari bahwa ada satu permintaan kepada saya tapi tidak saya penuhi karena permintaannya baru kebaca sementara masanya sudah lewat. Permintaannya sederhana yaitu, 'bisa bantu cek grammarnya?' kalau permintaannya begini sudah bisa ditebak ya ini berhubungan dengan bahasa.

Sebenarnya saya sendiri cukup menikmati kegiatan mengecek tulisan dalam bahasa Inggris, meski kemampuan bahasa Inggris saya juga belum sebaik Desi Anwar, yang penting dapat kesempatan untuk terus belajar. Jadi permintaan yang macam ini pasti dengan senang hati saya terima dan kerjakan. Namun, kebetulan juga bahan yang perlu dicek itu sebagian sudah pernah saya perbaiki sebelumnya, yang membuat saya teringat pada satu hari yang saya habiskan untuk mengecek tulisan yang panjangnya hanya satu halaman A4 itu. Karena tulisan itu untuk keperluan pertemuan Internasional dengan membawa nama lembaga, saya pikir perlu betul-betul dibenerin. Dan karena penulisnya adalah junior saya yang saya tahu sedang belajar meningkatkan kemampuan berbahasa inggrisnya, jadi tulisan itu bolak-balik saya edit, periksa, edit lagi, sebelum akhirnya saya kirim ke penulisnya, supaya hasilnya lebih baik dan dia pun dapat belajar dari editan saya.

Setelah beberapa lama sejak tulisan tersebut saya edit dan kirimkan kembali, saya mendapat email terusan bahwa tulisan tersebut telah diterima untuk pertemuan di negeri seberang. Tentu saja saya senang mendengarnya, namun membaca catatan dari pantia mengenai tulisan yang mereka perbaiki membuat saya sedikit patah hati. Awalnya saya mengira hasil editan saya masih kurang baik sehingga panitia pertemuan mengedit sendiri tulisan tersebut, kalau itu sih saya pasti senang karena saya bisa belajar salahnya dimana saja. Tapi yang saya lihat tulisan yang mereka maksud adalah tulisan versi awal, alias yang belum kena editan saya. Berarti tulisan versi asli lah yang dikirim dan hasil editan saya satu pun tidak dipakai?

Untuk beberapa saat saya hanya terdiam. Mengesampingkan kenyataan bahwa sebenarnya kejadian ini sudah saya prediksi karena sebelumnya pernah mengalami kejadian serupa dengan orang yang sama, saya bertanya-tanya; Mungkin editan saya terlalu banyak atau terlalu sedikit? Mungkin editan saya mengubah susbtansi tulisan? Mungkin editan saya membuat saya terlihat seperti saya saja yang paling tahu tentang topik itu dan mengecilkan sang penulis? Mungkin hasil editan saya tidak pernah sampai ke penulisnya dan akhirnya penulis mengirim tulisan versi yang ditulisnya? Mungkin si penulis merasa tulisannya sendiri sudah cukup baik sehingga tidak perlu memakai versi editan saya sama sekali?

Ah sudahlah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah terdengar seperti prasangka. Mengira ini dan itu, kemana-mana. Yang jelas saya hanya ingin memberikan yang terbaik. Memberi hasil yang terbaik sembari mengajari menulis yang lebih benar. Dan jika saya memang menikmati mengedit tulisan, kenapa harus berharap editan saya itu akan selalu dipakai? toh setiap penulis pasti punya penilaian, pertimbangan dan prioritas sendiri. Juga jika saya niatnya membantu, dipakai atau engga ya tidak masalah yang penting permintaannya sudah saya kerjakan sebaik yang saya mampu. Intinya sih melakukan segala sesuatu itu musti ikhlas.

Yuk ah lanjut mengedit tulisan lagi dan belajar ikhlas lagi.
Dan sepertinya saya harus kembali giat menulis lagi, masa bisanya hanya mengedit tulisan orang lain saja., tulisan sendiri mana???


No comments:

Post a Comment