Pages

Sunday, January 7, 2024

Resolusi Tahun 2024: 40s to 40

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini tahun 2024 aku punya resolusi. Tahun ini menurutku memang spesial karena di bulan April nanti aku akan berumur 40 tahun, insyaallah. Big number. Bagi sebagian orang umur ini udah masuk kategori sedikit tua. Bagi UN (United Nations) usia ini mah masih muda, wong batasnya sampai 60 tahun! Dulu aku sering dengar atau bahkan sekarang pun masih ada yang sering bilang, bahwa life starts at 40, hidup (yang sesungguhnya) di mulai saat seseorang berumur 40 tahun. Ntah apa yang penyebab kalimat populer ini. Mungkin ya pada usia inilah sebagian orang atau kebanyakan orang melakukan refleksi atas kehidupannya; apa yang sedang dilakukan, menuju ke arah mana, apakah kehidupan yang dijalani sekarang cukup dinikmati atau tidak, apakah semua daftar keinginan sudah tercapai, apakah sepanjang hidup sudah cukup bermanfaat, bagaimana dengan masa selanjutnya, pindah/ cari kerja baru atau bertahan di tempat sekarang, ganti profesi atau pensiun, biaya anak kuliah, cicilan kpr masih 5 tahun lagi, dll dsb. 

Terus terang aku sendiri belum sedalam itu memikirkan aka belum refleksi sama sekali. Well, sejujurnya ada sih; ya udah mulai mikir pensiun nanti mau ngapain, kapan baiknya pensiun, pensiun tinggal di mana (maunya sih dekat pantai), jadi mau sekolah S3 atau tidak, berapa lama lagi kerja kantoran.. (lah ini sih ga bisa dibilang sedikit ya). Kayaknya yang beginian ga bisa dihindari sih, terjadi aja, muncul aja gitu di pikiran. 

Mari kembali ke resolusi. Karena tahun ini angka umurnya adalah 40 jadi biar ngepas aku kasih tema: 40s to 40. Aku berencana melakukan hal-hal berikut: 

To be completed before I reach 40 years old (by 22nd of April):

1. Lari 40 Km 

2. Berenang dan bersepeda masing-masing 4 Km 

3. Berpuasa sunnah 12 hari 

4. Membaca 4 buku (buku yang mulai dibaca di tahun 2024 - fiksi dan non fiksi)

5. Mengurangi berat badan 4 Kg 

To be completed until end of 2024: 

6. Melanjutkan berenang dan bersepeda sampai masing-masing 40 Km

7. Melanjutkan puasa sunnah sampai 40 hari

8. Trekking di hutan 40 Km

9. Melanjutkan baca 8 buku

10. Menulis 4 artikel ilmiah untuk dimuat di jurnal

11. Maintain the weight lost in the 1st quarter

Masih ada 1 lagi tapi yang ini sebaiknya tidak usah aku tuliskan supaya tidak riya'. 

Jadi tidak semuanya 40 melainkan ada yang kelipatan 4. Kurang ambisius? ah itu kan menurut situ, menurut eike ini udah keren. Tinggal eksekusinya aja nih bisa tetap keren atau tinggal kenangan, hahaha. Doakan ya, pemirsa! 😁 



Tuesday, January 2, 2024

Which country (ies) you are most fascinated with?

I hava always been fascinated with the United States of America (USA). That is my top, my number 1 choice. Nomor 2 adalah Inggris. Amat sangat mainstream pake banget yah. Aku suka juga sih dengan negara seperti Jepang karena budaya nya yang unik, terutama karena manga serta anime nya. Sampai sekarang pun di usia dikit lagi 40 tahun, aku masih baca manga online. Sesekali beli komik Kariage dan Kobo Chan. Tapi walaupun begitu, to me nothing beats USA dan Inggris. Kenapa ya? mungkin karena dulu yang aku nonton dan baca waktu kecil hampir semua impor dan berkiblat di dua negara itu. Because I am a millenal generation;  I grew up with NKOTB (New Kids on The Block) dan Take That sebagai boyband yang aku dengar waktu masih bocah. Setelah masuk masa ABG masanya boyband Backstreet Boys dan Boyzone.  Bacaan waktu boleh pilih buku yang dibeli adalah cerita-cerita horornya R.L Stine. Tontonan didominasi kartun dari Disney dan MGM, sesekali kartun Jepang macam Candy Candy, Saint Seiya, Doraemon tentu saja dan Sailormoon. Tak ketinggalan siaran radio VOA dan BBC. Ya ampun dua stasiun ini sedari aku kecil sering banget aku dengar dari radio almarhum kakek dan terus jadi andelan saat kuliah. Kalau udah dengar dua siaran ini terutama bagian International, aku merasa nambah level kecerdasan, hahaha. 

Sewaktu kuliah, aku dengar tentang seorang senior perempuan, dosen di Universitas Lampung, salah satu inisiator Hutan Kemasyarakatan, punya gelar PhD di namanya. Saat nama beliau dibacakan lengkap (sebagai pemateri kuliah umum), saat itu juga aku terpesona mendengarnya. PhD.. PhD... keren banget... ga usah pakai gelar - gelar yang lain, PhD udah yang paling keren sejagad raya. Gelar PhD tentu saja didapatkan dari hasil studi di luar negeri (kalau di Indonesia gelarnya Doktor), dan seniorku ini mendapatkannya dari satu universitas di Amerika Serikat ... ah USA. 

Saat aku kerja di Riau, supervisorku tengah studi S3 di Amerika Serikat. Studi S2 nya dilakukan di Inggris. Di mataku ini keren banget. Jadilah aku pun bermimpi - sekaligus berambisi bahwa aku ingin juga S2 di Inggris dan S3 di Amerika.. sepertinya itu lah jalan yang tepat untukku. 

Waktu berjalan, studi S2 berhasil aku lakukan di Inggris, sesuai dengan mimpiku. Bagaimana rasanya sekolah di Inggris? wah puas tapi ga puas! lha maksudnya? puas karena keinginan, mimpi, ambisi untuk sekolah master di sana tercapai. Ga puasnya karena program master di Inggris hanya setahun! Baru juga mau dinikmati lebih intim, eh udah keburu musti balik ke tanah air. 

Lalu bagaimana dengan keinginan S3 di Amerika? Beberapa teman seangkatanku kini bahkan sudah menyandang gelar PhD di belakang namanya. Ada yang lulusan Finlandia, Australia, Jepang.. lumayan dari mereka aku dapat gambaran tentang studi doktoral dan rasanya tinggal agak lama di negara lain. Sayangnya itu, aku belum nemu nih teman seangkatan yang S3 nya di Amerika. Meski USA masih ada di daftar negara prioritasku, kedudukannya semakin terancam seiring dengan bertubi-tubinya kejadian penembakan random dan regulasi kepemilikan senjata tidak ada perbaikan. Kan serem ya kalau harus sehari-hari berisiko menjadi target atau korban penembakan random ini. Memang sih yang namanya ajal itu adalah rahasia Ilahi, tapi tetap aja alasan ini yang membuat suamiku tidak setuju kalau aku mau sekolah ke Amrik. Belum lagi soal diskriminasi atau yang ga kalah serem fasilitas healthcare yang ga bisa dibanggakan sama sekali. Bagusan juga healthcare nya Indonesia yang pakai BPJS. Kalau udah mulai merinci pros and cons USA ini, wah mulai deh kelihatan bahwa Amrik ini sebenarnya biasa aja, beberapa negara lain lebih baik di banyak aspek. 


Sunday, February 6, 2022

Berbagi di UlangTahun Kei

Dalam dua minggu kedepan, Kei, akan berumur 5 tahun. Di 4 tahun sebelumnya, ulang tahun Kei tidak pernah kami rayakan dalam bentuk acara ulang tahun anak-anak pada umumnya; tidak ada kue ultah, juga tidak ada paket bingkisan isi cemilan yang dibagikan ke teman-teman Kei. Karena tidak pernah ada acara ultah untuk Kei, jadinya tidak pernah ada foto ultah Kei, sama halnya baik Kei dan kami tidak pernah menyanyikan lagu ulang tahun di hari kelahiran Kei. Alasannya sederhana saja, karena me-acarakan ulang tahun anak itu sudah terlalu umum alias mainstream. Sebagai orangtua penganut aliran "sebisa mungkin anti mainstream", tentu acara-acara seperti itu kami hindari. Nanti setelah Kei tahu apa artinya ulang tahun, dia dapat merayakannya sesuai dengan keinginannya (Kalau masih dalam tanggungan kami, harus dengan 'syarat & ketentuan'; kalau sudah dewasa, he can do whatever he wants as long he understands the costs & consequences). 

Satu-satunya yang kami lakukan secara rutin di hari ulang tahun Kei adalah berbagi ke orang terdekat di rumah kami yang kontribusinya sangat membantu kehidupan kami bertiga. Di tahun ini, selain tetap melakukan hal rutin tersebut, saya dan daddy nya Kei sepakat untuk menjual barang-barang kesukaan kami untuk dibelikan perlengkapan sekolah; buku, sepatu, tas sekolah dan dibagikan ke komunitas baca di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Semua barang-barang tersebut tentunya karena bekas atau bahasa populernya 'preloved' harganya disusutkan menjadi 10-30% dari harga belinya. Seandainya situs ebay di Indonesia se terkenal di Amrik sana, saya lebih senang dengan metode lelang. Namun karena tidak demikian adanya, jadi kami menggunakan Tokopedi@. 

Barang-barang yang kami jual adalah: 

1. Tas kulit merk FOSSIL 

Tas ini salah satu barang kesayangan saya. Beli waktu sekolah di Inggris di tahun 2013. Untuk belinya juga saya harus naik bus sekitar 1 jam dari kota tempat saya tinggal. Saya sudah lama kepengen punya men's bag berbahan kulit warna coklat karena kelihatannya so vintage dan I am a fan of vintage look. Harganya beli udah sih persisnya berapa, sekitar 200an poundsterling lah. Setelah punya tas itu rasanya senang banget sampai ke langit meski 2 minggu berikutnya saya harus ekstra ekstra ekstra hemat karena belanja tas itu telah menguras isi rekening saya yang bergantung hanya pada satu sumber, yaitu beasiswa. 

If you are a fan of vintage leather bag, you might want check my bag yang ditawarkan di halaman ini. Harganya kami tawarkan Rp 789 ribu (sekitar 24% dari harganya saat beli). Untuk look nya kira-kira  mirip dengan tas FOSSIL tipe Greenville Cognac ini, beda di kepekatan warna coklatnya dan tampilan bagian muka. 




2. Sepatu Pesta heels merk Paulina + bonus sepatu open toes merk Elle

Sepatu untuk pesta ini sejak dibeli hanya 1 kali saja saya pakai yaitu saat menikah, haha. Jadi praktis saya tidak punya banyak histori dengannya. Beda dengan sepatu yang juga tipe open toes merk Elle yang menjadi bonus ketika membeli sepatu merk Paulina saya. Sepatu Elle ini ketika dipakai membuat kaki saya tidak cantik terlihat cantik. Sayangnya setelah punya anak rasanya kaki saya sedikit membesar sehingga sepatu ini bagi saya sudah kurang nyaman kalau dipakai agak lama. Harga sepatu ini waktu beli tahun 2016 adalah 1jutaan dan 700an ribu (harga persisnya udah lupa juga). Sekarang kami tawarkan di harga 345ribu untuk kedua sepatu (~20% dari harga beli).













3. Tas selempang merk Crumpler

Kalau yang ini kesayangan suami. Kesukannya terhadap merk ini dimulai ketika kuliah di Melbourne. Ditawarkan di harga Rp 299 ribu atau hanya 17% dari harganya saat beli. Karena yang punya histori dengan tas ini adalah suami saya, jadi tidak banyak yang dapat saya ceritakan di sini. Yang jelas kondisi tasnya masih bagus bin kuat. Biasanya tas model seperti ini disukai oleh yang mobilitasnya dengan sepeda. 


4. Kacamata Matahari merk Ray Ban

Senang dengan kacamata ini karena tipe nya yang vintage look. Belinya di Pekanbaru khusus untuk keperluan jalan-jalan di luar hutan. Untuk jalan-jalan di hutan saya punya kacamata yang berbeda. Hahah gaya banget ya. Aslinya kacamata reben ini jarang saya pakai karena jalan-jalan saya kebanyakan di hutan plus penyangga hidungnya sering mlorot ketika hidung saya mulai basah karena keringat. Alasan sebenarnya lebih ke nomor 2 sih, ntar karena licin begitu ketika air atau memang hidung saya yang tingginya pas-2an. Memori paling berkesan dengan kacamata ini adalah waktu saya pakai untuk trip ke Gunung Rinjani, she made me look absolutely super cool 😎. Ditawarkan di harga Rp 245 ribu atau hanya 14% dari harga saat beli. 


Masih ada beberapa barang lagi yang akan kami tawarkan di Toko Kei Wheel, saat ini masih proses penyuntingan, hehe. Remember, if you like it, and you want to contribute to kids education, go grab the items fast! 

Sekali lagi semua hasil penjualan barang-barang akan sepenuhnya digunakan untuk membeli peralatan sekolah anak-anak yang tidak se-previlege saya, bapaknya Kei, dan Kei. Semoga ini menjadi berkah dan membantu Kei belajar dan selalu ingat bahwa berbagi membuat hidup lebih berarti. 


Monday, January 31, 2022

Tawaran kerja

Pagi tadi saya mengirimkan email penolakan tawaran kerja. Sejujurnya saya sedih mengirimkan email tersebut. Khawatir tidak akan ada lagi kesempatan berikutnya.  Kesempatan bekerja di lembaga international development telah datang 2x, dua-duanya dengan berat hati tidak saya ambil. Kalau sebelumnya karena kondisi saya yang lagi hamil, sekarang karena kondisi di tempat kerja yang kondisinya tidak bijak bagi saya untuk tinggalkan saat ini. 

Saya mikirin tentang tawaran kerja ini lama, bolak-balik, nimbang-nimbang semua pros dan cons. Nge-draft email juga bolak-balik, mastiin bahasanya se-halus dan se-sopan mungkin. Pas mau klik "send" baca Bismillah dalam hati keras-keras. Begitu selesai kirim emailnya, hati - jantung - se jari-jari tangan langsung lemes semua. Dalam hati saya hanya berharap, semoga ini yang terbaik. 

I am not staying because I am loyal to the company. I am staying because of my Boss. I am rooting for her and I want to see what is it at the end of the tunnel, or to be exact, at the end of the storm (hopefully the storm will end soon!). So yeah, basically we are bracing the storm together. Unfortunately,  for various and different reasons, we continue losing our team member one by one along the way. And this has made it even harder for me to add my name on the list. 

Semoga di masa depan, kesempatan ketiga itu datang kembali. Third time's the charm! *fingers crossed. 






Monday, January 24, 2022

Kasta Masker

Pandemi Covid19 sejatinya turut menambah panjang daftar kasta atau kelas diantara masyarakat, salah satunya adalah masker. Masker sebagai bagian dari protokol kesehatan alias prokes telah sangat akrab di kita, setidaknya di masyarakat jabodetabek sejak Covid19 mulai menerjang masuk ke Indonesia di bulan Maret tahun 2020. Seketika itu juga masker yang biasanya hanya dipakai orang-orang tertentu yang bekerja di rumah sakit, menjadi kebutuhan bagi semua masyarakat; semua umur dan semua golongan. Yang biasanya harga 10ribu dapat 2 lembar, tiba-tiba menjadi 200-300 ribu untuk 20-25 lembar, bahkan ekstrimnya harganya pernah hampir mencapai 400ribu sekotak isi 25 lembar. kebutuhan yang tiba-tiba membludak menjadikan masker menjadi benda yang sungguh berharga bagi setiap orang. 

Kini, setelah 2 tahun pandemi ini melanda, harga masker lebih 'normal' harganya dan dengan varian merk, bentuk, serta warna yang dapat dipilih, tentunya sesuai dengan kerelaan untuk membayar harga masker yang dipilih. Kalau sebelumnya ada merk Sens1 yang harganya paling premium untuk masker sehari-hari, sekarang ada merk P*kana. Ya, ampun saya naksir dengan masker anaknya yang tipe 3D tapi begitu lihat harganya saya patah hati, mahal betul. Kenapa sih beda harganya jauh banget dengan masker lain? kenapa sih produsen senang banget menciptakan kasta baru di kehidupan masyarakat? ini lho buat dipake sehari-hari, mana sekali pakai pun, kenapa tidak buat 1 standar saja dan dengan harga sama? kenapa kenyamanan dan proteksi lebih (2 ply vs 3 ply vs 4 ply) dalam masker hanya boleh dinikmati oleh orang-orang tertentu? ini kan situasi pandemi ya dan menurut World Bank ini akan berlangsung bertahun-tahun.  Kalau sebagian besar orang Indonesia mampunya beli masker yang kualitasnya masih tanda tanya, sama saja dong sebagian besar orang Indonesia tidak terlindungi dengan baik dan ini otomatis artinya resiko penularan juga ga akan turun-turun. 

Jadi tolong lah para produsen masker, jangan cuan terus yang dikedepankan. Ingat, ini situasi pandemi dan waktunya lama, jangan lah lagi perparah jurang sosial ekonomi yang sudah ada. Setidaknya mereka yang secara finansial memang tergolong miskin dan yang terkena imbas pandemi secara ekonomi (diberhentikan, pengurangan gaji, dll) tetap berkesempatan untuk mendapatkan masker yang nyaman, full protection, dan terjangkau. 

Jangan ada kasta masker diantara kita.

Saturday, September 19, 2020

Ka-eR-eL

Rasanya ingin kuhindari saja naik Kereta Rel Listrik (KRL) ini sekalian, namun apa daya, dompetku tak mampu. 

Sejak pindah kerja dan mulai berkantor di Daerah Slipi, Jakarta Barat, moda transportasi pilihan utamaku berganti dari sebelumnya ojek motor (pangkalan atau online sama saja buatku karena tarifnya tidak jauh beda) menjadi KRL. Kenapa? pertama karena opsi yang lain seperti ojek motor membuatku menghabiskan waktu lebih lama di jalan di tengah deru dan asap knalpot beribu kendaraan, sehubungan dengan jarak kantor yang lebih jauh dari kantor sebelumnya. Kedua karena naik KRL biayanya lebih murah dan rata-rata durasinya lebih cepat. Iya dong mana ada orang yang naik KRL trus telat nyampe kantor dengan alesan macet? ga ada kan, yang ada juga karena kerusakan kereta atau yang lain, ini pun jarang banget kejadian. 

Naik KRL bukan hal yang baru sih buatku karena di kerjaan sebelumnya aku juga cukup sering naik KRL, tapi tidak pernah mengalami seperti yang ada di anime Jepang, yaitu saking penuhnya isi kereta sampai petugas harus mendorong sekuat tenaga dari luar kereta. Ya karena kantor lama itu letaknya berlawanan arus dengan kebanyakan tujuan pekerja pada umumnya di area Jakarta Pusat dan sekitarnya, sedangkan aku tinggal di Kalibata dan kantor di Pasar Minggu, jadi otomatis aku tidak pernah berdesak-desakan di dalam kereta, malah hampir selalu dapat tempat duduk. Di kerjaan baru ini lah aku mulai merasakan menjadi seorang pekerja di Jakarta yang sebenarnya = perjalanan pergi - pulang rumah ke kantor adalah perjuangan. Lebay ya, padahal baru naik KRL aja sudah bilang perjuangan. Yang lebih tepat dikatakan perjuangan itu adalah 'Hidup' karena katanya Once, "hidup.. adalah perjuangan tanpa henti-henti..." tsah.

foto dari https://www.dailymail.co.uk/travel/travel_news/article-3264855/What-experience-time-things-badly-holiday-Incredible-images-world-s-extreme-rush-hours.html

Jadi apanya sih yang naik KRL itu perjuangan? 
Jam 6 pagi aku dah mulai jalan menuju Stasiun Kereta Kalibata. Tinggal di Apartemen Kalcit itu salah satu keuntungannya adalah dekat dengan stasiun KRL, jaraknya sekitar 5-7 menit saja dengan berjalan kaki. Pede lah ya jalan jam segitu yang pasti ga akan telat secara jam kantor baru mulai Jam 8. Berangkat jam segituan juga kira-kira isi KRL masih muat lah ya untuk beberapa orang lagi dari stasiun ini. Begitu nyampe stasiun, kereta jurusan Tanah Abang tiba. Jreng2 dasar akunya ga pernah naik kereta yang jam 6an jadinya perkiraan meleset. Kereta ternyata penuh nan padat, yang udah nunggu di stasiun ga kalah banyaknya. Kaget dong dan aku pun bingung dengan kepadatan segitu apa mungkin masih bisa masuk?.. tatkala ku masih sibuk memikirkan cara untuk masuk ke kereta, orang-orang yang sudah ada menunggu di stasiun langsung bergerak tanpa ragu sedikitpun menerobos masuk ke dalam gerbong-gerbong kereta. Adegan kereta padat di dalam anime Jepang kini terlihat nyata; tas di pegang tinggi-tinggi sambil badan mendorong masuk ke gerbong, ada juga yang tas punggungnya langsung dipindah kedepan jadi tas dada dan kedua tangan digunakan untuk mendorong, yang perempuan tote bagnya dikepit rapat, lalu dengan mantap menerobos masuk ke kereta dengan cara mendorong barisan manusia yang telah ada di dalam kereta, yang badannya mungil, dengan lincah menyelinap masuk di sela-sela kerumunan manusia. Tersisa lah aku yang masih berdiri di stasiun; tertegun dan termangu seakan tak percaya peristiwa yang hanya sekitar 1 menit itu. Baru juga ingin melangkahkan kaki mengikuti jejak para pejuang-pejuang KRL, pluit kereta berbunyi disusul oleh pintu-pintu gerbong yang menutup diri. Sedetik kemudian akupun ditinggal oleh Sang Masinis yang pergi bersama serangkaian gerbong kereta menuju stasiun berikutnya.  
Okeh, kataku dalam hati mantap, kereta berikutnya aku tahu apa yang harus dilakukan, pasti bisa masuk gerbong. 

Setelah menunggu beberapa menit, kereta jurusan Tanah Abang berikutnya pun tiba. Sedikit berharap kepadatan tidak separah kereta sebelumnya. Tentu saja harapan kosong, justru kelihatannya malah lebih padat isi kereta kali ini. Calon penumpang lain yang telah menunggu di stasiun tampak mulai bersiap-siap, bersiap menerjang lautan manusia demi terangkut oleh KRL. Aku pun tak mau kalah dan langsung bersiap. Kereta tiba, pintu gerbong terbuka, seketika itu juga terjadi pergerakan oleh calon-calon penumpang KRL. Meski sudah berusaha untuk ikut menerjang, ternyata aku gagal. Gagal karena masih ada sedikit kesangsian di dalam hati.. bisa ga ya? bisa ga ya? duh padat banget.. gila manusia banyak banget sih.. kok ga berbaris aja sih untuk masuk kereta seperti klo baris mengantri di loket?.. dan lain-lain dan seterusnya berkelebat dalam diri. 

Akhirnya di kereta ke-3 barulah aku sukses masuk ke dalam kereta, udah sempai keringetan dan nunggu hampir sejam, buang-buang waktu banget ya. Kalau naik ojek mungkin udah mo sampai ini mah. Tapi ga papa lah pengalaman, hari berikutnya harus sukses di percobaan pertama!

Bagaimana setelah berada di dalam kereta?
Begitu masuk di dalam kereta, ku langsung mencari sandaran hati tiang untuk berpegangan sembari satu tangan memegang kuat-kuat tas. Di bagian dalam atau tengah kereta ternyata sedikit lebih lega dibanding di sekitar pintu gerbong. Ga tahu juga sih kenapa pada dempet-dempetan di dekat pintu. Jadi begitu sudah dapat pegangan ya sudah deh tinggal berdiri sampai nanti tiba di stasiun tujuan. Penumpang paling banyak turun di stasiun Sudirman, pusatnya perkantoran, nah biasanya langsung ada bangku yang kosong. Kalau masih kuat berdiri aku lanjut berdiri, toh tinggal 2 stasiun lagi. Tapi kalau pas bangku yang di depan kosong dan sekitar ga ada orangtua atau hamil, ya aku duduk aja. Kata ibuku, jangan suka menyia2kan sesuatu, mubasir.. ya sudah daripada kosong bangkunya ya aku duduk lah. Kasihan juga kan bangkunya sudah dibuat tapi begitu kosong trus ga dipakai, bisa sedih deh perasaan si bangku dan si pembuat bangku kereta... 

Bagimana supaya bisa lebih nyaman naik KRL? Kalau aku sih yang tadinya pakai sepatu berhak jadinya ganti sepatu lari; jari kaki semua aman terlindungi dan karena haknya datar jadi ga bikin cepat capek kala harus berdiri. Sepatu hak aku simpan di kantor jadi begitu nyampe kantor tinggal ganti. 

Gerbong campur atau gerbong khusus wanita? Sebenarnya aku lebih suka di gerbong wanita karena wangi parfum dimana-mana jadi meski padatnya macam ikan sarden yang saling menempel di dalam kaleng, ku dikelilingi oleh beraneka wewangian. Tapi yang katanya gerbong wanita itu lebih sadis bin ganas, benarlah adanya, sepertinya ada Dinda yang senantiasa ada di gerbong khusus perempuan ini. Sadis bin ganasnya itu yang aku lihat masih banyak yang muda-muda masih segar suka ga mau ngalahan sama ibu-ibu yang kelihatannya tua, pura-pura tidurlah dll. Kalau pas ada bangku kosong, rebutan secepat kilat, Flash aja kayaknya kalah cepat tuh. Juga sering ga mau bagi ruang berdiri dikit aja, geser se-centimeter aja kayaknya berat banget, macam diganduli sama beban hidup, uaboot rek!
Jadi gerbong campur itu lebih manusiawi sedikit tapi ya gitu, wangi parfum dan bau ketek saling bercampur yang suka bikin sakit kepala. Jadi kalau di gerbong campur pun, aku biasanya langsung cari yang dekat-dekat perempuan, selain wangi juga supaya jauh-jauh dari pelecehan seksual. Ngeri baca kasus-kasus di KRL yang ternyata ga sedikit dan sayangnya sangat minim yang kemudian berhasil diproses hukum. 

Supaya tas aman dari copet? tas ransel (daypack) atau tas selempang atau tas tote, tasnya aku taruh di depan di dada, satu tangan mengepit tas, tangan yang lain pegang tiang. Mau penuh mau rada kosong isi kereta, tetap aja seperti itu pegang tasnya, jangan lengah karena copet tidak pernah lengah. Ingat kata mama Bang Napi:

                                   foto dari https://www.boombastis.com/bang-napi-susah-dilupakan/123479                               
       
Kira-kira begitulah pengalamanku saat harus mengandalkan moda KRL di tahun 2014-2016 lalu. Ujung-ujungnya sih kita harus bersiasat ya mengikuti kemampuan isi dompet. Disyukuri masih punya pekerjaan yang memberikan pendapatan rutin, sembari juga meningkatkan kualifikasi supaya bisa naik gaji atau pindah tempat kerja dengan gaji lebih baik atau jarak lebih dekat, dan ga perlu lagi naik KRL misalnya, hehe.  

Friday, May 17, 2019

kami (seperti) pasangan ideal

Sejak bulan Februari 2014 saya menyewa satu unit apartemen di daerah Jakarta Selatan. Saya tidak sendiri melainkan berdua dengan seorang teman. Namanya Nina. Nama julukannya sempat ada beberapa, yang cukup terkenal adalah Kinoy, Miss Rhino dan Miss Pantura. Kini ia lebih suka dipanggil dengan sebutan Miss Indonesia, julukan yang disematkan padanya oleh tour guide saat kami berlibur ke Thailand. Lebih pas sih dengan Miss Indonesia karena julukan 'Miss Pantura' mah udah ketinggalan angkot alias udah ga cocok. 

Unit apartemen yang kami sewa ukurannya 36m2 dan memiliki 2 kamar; satu kamar utama dan satu kamar ukuran lebih kecil. Sudah full furnished, dapur lengkap dengan kulkas, tempat tidur beserta lemari, sofa kecil plus dengan tv nya. 

Awalnya saya mengira saya akan mendiami kamar yang lebih kecil. Saya pun tidak masalah sama sekali, karena barang saya lebih sedikit dibanding barang milik Nina sehingga dia pasti membutuhkan kamar utama yang ukurannya lebih besar. Namun, Nina memutuskan untuk kami berdua tidur di kamar yang sama, di ranjang yang sama yang kebetulan ukurannya 160 x 200 cm, family size. Saya sebenarnya sedikit kaget karena terus terang saya belum begitu lama kenal dekatnya dengannya. Khawatir juga dia ga terbiasa berbagi kamar apalagi berbagi kasur. Kalau saya sih dari kecil sampai kuliah pun memang selalu berbagi kamar berbagi kasur karena dana terbatas. Nah saya mulai dekat dengan Nina setelah saya pulang dari Inggris dan kembali bekerja di Jakarta. Sebelumnya meski kami bekerja di LSM yang sama, saya hanya mengenalnya sebagai staff kantor program Ujung Kulon, sedangkan saya waktu itu di Program Riau. Setahun sebelum saya berangkat sekolah, saya dipindahtugaskan dari Riau ke Jakarta. Jadi saya sempat numpang beberapa hari di kamar Kos Nina sebelum saya mendapatkan kamar Kos sendiri. Selama setahun di kantor Jakarta pun sebenarnya saya tidak intens bergaul dengan Nina. Tapi kelebihan Nina yang banyak orang (termasuk saya) tidak miliki adalah keluwesannya dalam bergaul. She is really warm, super friendly, very smart, open, and a lot of fun, yang membuat orang-orang termasuk saya merasa tidak kikuk karena kita sudah lama berteman. 

Hidup bersama di satu unit apartemen kami langsung menyesuikan diri dengan ritme dan kesukaan masing-masing. Setiap bulan saya memasukkan uang beberapa ratus ribu untuk biaya laundry, gas, dan air minum. Setiap bulan Nina menyetor uang ke pemilik unit yang kami sewa untuk membayar tagihan listrik dan gas.Semua kebutuhan perlengkapan kamar mandi, mencuci dan bersih-bersih selalu distok Nina. Sedangkan isi kulkas saya lah yang menyediakan. Untuk semua biaya kebutuhan rumah tangga, makan dan transportasi kami tidak pernah hitung-hitungan. Saya tidak pernah tahu berapa Rp yang sudah Nina keluarkan untuk semua biaya itu tiap bulannya. Saya juga tidak pernah mengatakan berapa Rp yang sudah terpakai untuk bayar ini-itu. Kami tidak pernah buat kesepakatan khusus tentang pembiayaan ini, rasanya mengalir begitu aja sejak awal kenal dan berteman. 

Untuk urusan laundry, saya dan Nina bergantian mengurusnya, tapi Nina yang lebih sering handle; mulai dari memasukkan semua pakaian ke kantong laundry sesuai warna dan tipe pakaiannya (kemeja vs dress, etc.), dan memanggil abang laundry untuk menjemput ataupun mengantarkan pakaian yang telah selessai dicuci setrika.Tugas saya mengisi botol-botol sampo, sabun, kertas toilet dengan bahan yang sudah ada. Kantong plastik yang kami peroleh setiap berbelanja kebutuhan rumah, saya lipat dengan rapih dan masukkan ke laci untuk nanti digunakan sebagai kantong sampah. Saya juga memastikan bahwa sampah kami pilah menjadi dua; sampah kertas-karton-kaca-aluminium di satu tempat, dan sampah lainnya di tempat yang berbeda. 

Untuk urusan fashion, Nina juaranya. Ibuku bilang Nina berpakaian seperti pramugari; stylish dan cantik. Setiap pagi Nina memastikan saya memakai pakaian yang sesuai, menurut tempat dan acara, serasi warna baju dengan jilbab. Kecuali hari jumat dan hanya ke kantor tanpa ada rapat, maka saya dibolehkan memakai pakaian yang lebih casual. 

Saya menikmati memasak seperti halnya Nina menikmati beres-beres. Begitupun sebaliknya, saya menghindari beres-beres seperti halnya Nina menghindari memasak. Kami sama-sama menyukai masakan rumahan. Nina pecinta kikil dan sayur labu siam, saya pecinta ati ayam. Saya selalu bersemangat memakan sarapan dan sebisa mungkin menghindari makan malam, Nina sering merasa tak tertarik untuk sarapan dan sering kelaparan saat malam sehingga makan malam baginya adalah wajib.

Kami berdua penggila sayur dan sambel yang sangat sangat pedas. Setiap kali saya membuat sambel, seharian unit kami berbau cabe dan terasi. Di bulan-bulan awal tinggal bersama, hampir setiap hari saya masak dan kami bawa bekal makan siang ke kantor. Sekitar 3-4 bulan berikutnya semua pakaian mulai terasa sesak di badan. Menyusul kemudian komentar dari keluarga kami bahwa kami berdua telah menggendut! hahaha.. sejak itu kami putuskan untuk tidak bawa bekal makan ke kantor. Saya pun hanya menyiapkan sarapan dan masak di akhir pekan. Di kala Ramadhan, ketika kami tidak ada acara buka puasa di luar, maka kami akan makan masakan saya. Tanggung jawab saya hanya memasak, sedangkan menu setiap hari ditentukan oleh Nina. Untuk sahur, setiap jam 3 pagi, Nina akan membangunkan saya dan dia kembali tidur. Sejam kemudian setelah semua masakan siap, saya membangunkan Nina dan kami pun makan sahur bersama. 

Nina selalu memastikan bahwa unit kami selalu bersih, rapi dan wangi. Setiap kali AC perlu diservis atau perlu pest control untuk kecoa-kecoa kecil yang bandel, selalu diurus oleh Nina. Saya pernah mencoba mengurusnya dan saya nyerah! Menurut saya, prosesnya terlalu bertele-tele dan lama! Begitu diurus oleh Nina, sepertinya cuma 10 menit dan langsung beres, hahaha. Jempol deh buat dia. Di akhir pekan kala kami sama-sama tidak ada agenda ke lapangan atau agenda dengan sirkel lain, kami menghabiskan waktu di apartemen dengan nonton dan skincare-an. Sesekali kami juga nonton dan makan bertiga dengan Nanski, teman kami di WWF yang juga tinggal di apartemen yang sama namun beda tower. Biasanya kami makan di warung Jepang di tower cendana atau mi aceh bang jally di tower damar. 

Kata orang hidup di ibukota itu harus siap mental karena kerasnya tantangan yang dilontarkan dan ibukota lebih kejam dari ibutiri, hehe. syukurnya saya menjalaninya dengan cukup nyaman karena tinggal bersama Nina. Seandainya Nina ini laki-laki atau saya yang laki-lakinya, sudah pasti saya akan ajak menikah. Tapi pasti dia tolak sih hahah karena dia sukanya kalau pasangannya itu tinggi sementara saya nyaris semekot - kependekan dari semeter kotor alias orang-orang dengan tinggi tak lebih dari 155 cm.

Setelah 2 tahun hidup bersama Nina, saya akhirnya keluar dari apartemen unit 6 CP itu untuk hidup bersama pasangan saya yang inisialnya juga CP, haha kebetulan sekali! Meski tidak berjodoh dengan Nina sebagai pasangan, doa saya untuknya adalah dia selalu sehat, bahagia dan bersama pasangan yang secara kualitas setara dengannya. Dan untuk diri saya sendiri, saya berharap dijodohkan dengan seseorang yang tinggal bersamanya sama menyenangkan seperti tinggal bersama Nina. 

Sesekali kami masih bertemu, melepas rindu sembari menikmati masakan pedas. Setiap kali bertemu dengan Nina, setiap kali itu pula dia membuatku kagum. Dia sungguh seseorang dengan kualitas yang luar biasa! Sehat-sehat selalu ya, Neng. Sampai ketemu di perjalanan mengejar sunrise berikutnya! 







Saturday, March 17, 2018

di mana saya memompa asi?

Perkara memompa asi ini memang sebuah tantangan bagi ibu menyusui seperti saya. Tantangannya kira-kira setara lah dengan Sasuke Ninja Warrior!🙀😸 Yang kerjanya di kantor dan kantornya menyediakan ruangan khusus ibu menyusui, tentunya urusan memompa asi menjadi lebih mudah. Karena saya bekerja di kantor dan di lapangan, maka tempat-tempat saya memompa asi jadi beragam, mulai dari:

1. Gudang kantor: apapun level perusahannya; lokal, nasional, multi-nasional atau global, belum semua perusahaan menyediakan tempat khusus untuk ibu menyusui, termasuk kantor saya yang multinasional ini. Jadilah saya memompa asi di gudang kantor. 

2. Musholla: bukan tempat untuk memompa asi sejatinya, tapi karena kantor tidak menyediakan, beberapa kali saat lihat ibu-ibu posisi duduk kepala menunduk dengan telekung menutup muka menutup badan, memompa asi. Alhasil ketika saya punya bayi dan bosan dengan memompa di gudang, saya mencoba Musholla. Ternyata sangat tidak nyaman! posisi duduk dengan kepala menunduk selama beberapa menit saja bikin pegal, apalagi untuk sepanjang durasi memompa asi yang biasanya sampai 10-15 menit atau bahkan lebih, ga kebayang deh itu pegalnya gimana. Kadang saya merasa aneh juga, gedung kantor bisa sediakan musholla yang lumayan bagus dan lapang, tapi menyediakan ruang laktasi kenapa engga ya?

3. Ruang bekas kantor: waktu itu ada pembenahan dan perubahan susunan atau layout kantor. Selama masa pembenahan, ada ruang yang tadinya adalah ruang kerja menjadi ruang kosong. Setelah OB kantor bilang ruang itu bisa saya pakai, jadilah saya migrasi dari gudang kantor yang sempit ke ruang yang tak terpakai itu. Lebih lega dan dapat pemandangan langsung ke luar. Menjadi lebih asyik ketika dapat teman sesama pejuang ibu asi dari kantor lain di lantai atas. Kebetulan ketemu pas di Musholla saat dia sedang mompa jadi saya ajakin deh mompa bareng. 

4. Mobil: biasanya ini dalam perjalanan berangkat ke kantor atau kembali ke rumah. Ini pun dalam situasi sedang berada di Jakarta dan naik mobil sendiri. Tenang, disini maksudnya saya pakai Supri ya alias Suami supirin, bukan saya sambil nyetir trus mompa asi juga, wah meski terdengar heroik tapi jangan ya, bahaya. Nyetir sambil pegang hp aja ga boleh apalagi sambil mompa asi. Saat di lapangan, beberapa kali saya juga memompa asi di mobil yang kami rental, seringnya ketika waktu istirahat dan mobil bisa saya pakai seorang diri. Pernah juga saat di lapangan saat di Jalan, karena sudah waktunya mompa dan payudara saya sudah mulai keras, terpaksa mompa asi juga. Itu pas posisi duduk di baris belakang dan hanya berdua dengan bu Boss. Daripada bengkak iya kan, ya sudah mompa aja. Pas juga saat itu jalanan bumpy jadi suara pompa tersamarkan oleh suara mesin kendaraan. 

5. Toilet: sepertinya hampir semua toilet sudah pernah saya cobain atau lebih tepatnya saya pakai sebagai ruang untuk mompa asi. Di awal-awal saya mompa asi di kantor, saya sempat nyobain mompa di toilet. Ini melanggar aturan higenitas yang merupakan syarat untuk asi. terpaksa nyobain karena ruang gudang kantor itu penuh barang (ya iya dong namanya juga gudang dong) jadi sesak banget gitu lho. Ternyata mompa di toilet tidak kalah tidak nyamannya. Satu jelas karena status higenitas, kedua kalau pas di bilik sebelah lagi buang air besar dan baunya kecium seketika mempengaruhi mood, dan ketiga ga enak lama-lama di dalam bilik saat di luar orang-orang lagi ngantri. Udah mood berantakan terpaksa deh cepat-cepat nyudahin mompa, ga maksimal jadinya dapat asinya. Toilet hotel pernah nyobain pas musti ikut acara atau kegiatan apa gitu lupa deh dan hotelnya tidak menyediakan ruang laktasi. Kalau toilet di dekat ruang-ruang seminar/rapat itu suka ramai dipakai peserta yang ikut seminar jadi lebih pilih toilet yang satu lantai dengan reception hotel karena biasanya lebih sepi. Kalau toilet bandara ini pengalaman waktu di Kaltim tepatnya di bandara Balikpapan. Bandaranya padahal gede dan baru selesai renovasi tapi entah kenapa tidak langsung menyediakan ruang laktasi. Kalau ga salah sekali atau dua kali saya harus pakai toilet untuk mompa. Syukurnya kali berikutnya lewat bandara itu sudah tersedia ruang laktasi dan kegiatan mompa asi pun lebih nyaman. Ruang laktasi ini fasilitas wajib ada di bandara jadi kalau ada bandara yang ga menyediakan itu berarti tidak sesuai standar. 

6. Pos Satpam: cukup sekali aku memompaaaa di dalam Pos Satpam (dibaca pakai nada lagu bang Haji Rhoma 😁). Ini kejadian waktu kegiatan lapangan di site Kaltim bersama tamu (lupa deh tamu dari mana, WWF Kaltim kalau ga salah). Kami sudah selesai ngecek lapangan dan karena jarak dari Blok 2 ke kantor Blok 1 itu sekitar 2 jam sementara jadwal mompa asi sudah lewat sejam, saya minta berhenti sebentar di Pos Satpam untuk mompa. Mompa di mobil sudah kurang nyaman waktu itu, saya butuh ruang yang lebih lega. Jadi minta izin ruang tidurnya satpam yang berada di satu bangunan pos satpam saya pakai untuk mompa. Lumayan badan bisa nyender dan kedua kaki bisa selonjoran. Yang begini aja sudah bisa buat mompa asi lebih nyaman.  

7. Hutan: tempat ternikmat untuk mompa asi! udara segar, pemandangan pohon-pohon dan daun-daunnya yang hijau menyejukkan mata, angin semilir hutan yang sejuk, suara dari berbagai serangga  hutan utamanya Cicada yang bernada Zzzz Zzzz  Zzzzz ... serta sesekali suara burung yang menemani. Ah benar-benar tempat yang terbaik untuk mompa asi! baik di Hutan Mandelang di Jambi maupun hutan Blok 2 di Kaltim kedua-duanya sudah saya manfaatkan sebagai ruang laktasi. Jadi kalau ada yang tanya manfaat hutan yang tidak banyak orang ketahui, segera saya jawab, ruang laktasi termantap!😁

Sejatinya Ruang Laktasi itu adalah fasilitas standar atau fasilitas yang sewajarnya ada, bukan suatu kemewahan. Sudah diatur lho oleh Undang-undang dan Peraturan di negeri ini, tepatnya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 Tahun 2013.  Mungkin ya kalau saja semua tempat kerja terutama kantor/ gedung kantor dan semua fasilitas umum seperti Bandara, Terminal, Museum, dll menyediakan Ruang Laktasi, kegiatan memompa asi atau menyusui anak tak lagi menantang seperti Ninja Warrior itu. Kebalikannya, justru menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus menyehatkan untuk para Ibu. Coba deh tanya mbah Gugel, syarat untuk asi banyak ya ibunya harus moodnya bagus alias Happy. Asi yang banyak tentu supply yang bagus untuk anak. Menyehatkan karena asi kalau sudah waktunya ya harus dikeluarkan; dipompa atau disusui langsung ke anak. Kalau tidak, payudara bisa bengkak dan menjadi infeksi dan itu sungguh sungguh sakitnya tiada tara. 

Mungkin ya untuk para perempuan pekerja atau semua pekerja deh laki-laki juga termasuk, saat interview pekerjaan atau saat cari-cari tempat untuk kerja berikutnya, tanyakan apakah mereka menyediakan Ruang Laktasi. Saya kira ini bisa jadi satu indikator pemberi kerja/ employer yang baik. 


Saturday, December 3, 2016

Hamil dan Bekerja

Sebelum saya dan suami menikah, kami telah merencanakan untuk segera punya anak, mengingat kami berdua juga sudah berumur kepala 3.  Alhamdulillah keinginan dan rencana kami direstui oleh Yang Maha Kuasa.  Setelah menikah dan haid pertama pasca menikah tuntas, saya dinyatakan positif hamil. Oiya karena bidang pekerjaan saya mengharuskan saya banyak di lapangan, keluar masuk hutan, sebelum menikah saya mengusulkan kepada pasangan untuk melakukan Tes Pra Nikah atau Pre-Marital Check-Up, tujuannya untuk mengetahui kondisi kesehatan kami berdua, terutama saya yang selain kerjanya di hutan, juga punya peliharaan kucing di rumah. Dari kecil saya memang pelihara kucing, bahkan semasa masih tinggal di Pekanbaru, saya pernah punya 13 ekor kucing sekaligus! hihi.. rame. Nah, saya agak khawatir pekerjaan dan peliharaan saya telah membawa pengaruh negatif yang tidak saya ketahui bersemayam di tubuh saya dan berpotensi memberi dampak kepada anak saya nanti. Saya dan pasangan melakukan pre marital check-up sekitar 3 bulan sebelum kami menikah, ini untuk mengantisipasi jika ternyata ada masalah dengan kondisi kesehatan kami, terutama saya, maka ada waktu 3 bulan untuk melakukan pengobatan. Di saya sendiri terutama untuk hasil TORCHnya, ditemukan beberapa infeksi tapi Dokter Ginekologi (Obgyn) menjelaskan ke saya bahwa status infeksinya sudah lampau jadi tidak ada yang perlu saya khawatirkan, tidak perlu ada pengobatan apapun, cukup jaga kondisi dan InsyaAllah sehat untuk punya anak, Alhamdulillah. Untuk cerita lengkap tentang tes ini, sila cek tulisan suami saya disini.

Nah, kembali ke judul postingan, hamil dan bekerja. Ya, saya masih aktif bekerja di sepanjang kehamilan saya. Begitu dinyatakan positif hamil (usia kehamilan 5 minggu) saya minta saran ke Obgyn cara menjaga kehamilan karena minggu berikutnya saya harus ke lapangan; masing-masing ke Jambi dan Kalimantan Timur. Kebetulan ada calon donor dari Perancis yang akan melakukan scooping (penilaian awal) terhadap proyek kami sehingga ini adalah Perjalanan Dinas yang agak sulit saya tinggalkan. Obgyn nya mengatakan, pada umumnya ibu hamil disarankan untuk tidak bepergian jauh (dengan pesawat terbang) ketika kehamilan di bawah 13 minggu dan setelah 30 minggu karena kedua masa itu adalah masa rentan bagi kehamilan. Tapi jika perjalanan tersebut tidak dapat dihindarkan, oleh Obgyn saya diberi vitamin penguat kandungan (saya lupa merknya) dan vitamin folic acid (merk Folamil Genio) yang harus saya konsumsi masing-masing 1 tablet/hari. Saya juga diminta untuk minum air putih yang banyak dan tidak membatasi makanan, kecuali makanan setengah matang/tidak matang dan yang dibakar yang harus dihindari.

Selain bekal vitamin dan nasihat dari Obgyn, saya juga googling untuk persiapan perjalanan dalam kondisi hamil muda ini. Beberapa hal yang saya peroleh dan praktikkan adalah:
1. Memilih tempat duduk (dalam pesawat) di bagian sayap di koridor. Bagian ini adalah bagian dengan guncangan paling kecil dibanding bagian lainnya.
2. Banyak minum selama perjalanan di pesawat
3. Konsumsi kurma sebanyak 3-4 buah/hari

Sekembalinya saya dari lapangan, saya segera cek kandungan lagi ke Obgyn. Deg2an juga karena saat berada di Kaltim, sempat keluar darah saat saya buang air kecil, tidak banyak sih tapi tetap bikin khawatir ya. Saya pun langsung googling dan hasilnya flek atau darah yang keluar saat hamil muda dapat dikarenakan dua hal: pertama itu adalah indikasi bahwa terjadi proses perlekatan sel telur yang dibuahi oleh dinding rahim, artinya ini hal positif yang menandakan kehamilan dan tidak berbahaya. Hal kedua dan yang harus diwaspadai adalah ketika keluar darah yang banyak atau disertai kram perut karena merupakan indikasi keguguran, hamil anggur, atau kehamilan ektopik. Lebih jelasnya bisa cek disini.

Alhamdulillah hasil periksa menyatakan kondisi kandungan saya baik, usianya masuk 7 minggu. Beberapa hari berikutnya saya malah yang terkapar, batuk dan flu berat melanda. Jadilah saya minta izin dari kantor untuk istirahat di rumah. Awalnya hanya izin 2 hari namun karena tidak kunjung membaik, saya periksa ke Dokter jaga di bagian IGD, selain diberi obat, saya juga diberi surat keterangan sakit untuk 3 hari, jadilah saya istirahat di rumah selama seminggu penuh.

Sedikit tentang obat flu dan batuk saat hamil: ketika periksa, saya dan suami sudah menginformasikan ke Dokter bahwa saya sedang hamil 7 minggu, jadi mohon diberi obat yang aman saya konsumsi. Waktu itu saya belum punya nomor telpon Obgyn saya jadi tidak bisa berkonsultasi ke beliau. Karena merasa sudah menginformasikan kehamilan saya ke Dokter tersebut, saya merasa aman saja dengan 3 jenis obat yang diberikan. Ketiga obatnya sudah sempat saya konsumsi satu kali sebelum saya iseng untuk membaca kandungan obat dan kontradiksinya dan jeng..jeng... ada satu obat yang jelas tidak dianjurkan untuk kehamilan muda, sedang dua obat lainnya ketika saya telusuri informasinya di internet hasilnya adalah masih pro kontra terkait keamanannya untuk kehamilan tapi lebih banyak menyarankan untuk tidak dikonsumsi. waduh! langsung panik, telp suami, suami telp RS dan komplain! obatnya pun saya singkirkan dan saya fokus untuk makan dan istirahat saja untuk menaklukkan flu dan batuk yang melanda. Pelajaran juga sih kalau harus membiasakan membaca kandungan dan kontradiksi obat sebelum obatnya dikonsumsi ya bukan setelah!

Biasanya saya rutin tiap bulan ke lapangan, 10-12 hari di Jambi dan 7-8 hari di Kaltim. Berhubung hamil muda dan perjalanan dinas regular termasuk tidak urgent jadi saya menunggu sampai masa rentan lewat untuk ke lapangan. Masuk kehamilan minggu 14 baru saya ke lapangan lagi tapi dengan durasi yang lebih singkat dari biasanya, masing-masing hanya 5 hari. Sebelum berangkat pun saya periksa ke Obgyn dulu untuk tahu kondisi saya dan janin. Sayangnya Obgyn yang biasa menangani saya sedang tidak masuk praktik, akhirnya saya periksa ke Obgyn lain yang tersedia saat itu. Kondisi saya dan janin OK dan mengetahui saya akan melakukan perjalanan, obat/vitamin yang diresepkan oleh Obgyn kedua ini ternyata banyak banget, ada 5 jenis termasuk obat penguat kandungan yang dimasukkan lewat vagina. Haduh! selama ini saya hanya konsumsi folic acid, obat/vitamin penguat kandungan yang pernah diberikan oleh Obgyn pertama saat kehamilan 5-6 Minggu dikonsumsi lewat mulut, baik-baik saja semua, padahal saat itu malah masa yang rentan. Justru di masa yang aman ini malah dikasih obatnya banyak banget. Mungkin Obgyn nya khawatir kali ya jadi maunya mengantisipasi dengan maksimal. Toh Obgyn yang ini juga baru periksa saya kali pertama, beda dengan Obgyn yang satu lagi yang tahu riwayat kandungan dan fisik saya sejak hamil 5 Minggu.

Karena merasa tidak nyaman dengan sebagian obat yang diberikan, saya hanya konsumsi 2 dari 5 jenis obatnya, Prolacta DHA dan satu lagi untuk kalsium kalau tidak salah. Obat yang untuk penguat kandungan (dikasih 2 jenis) tidak saya konsumsi sama sekali. Prinsip saya, saya harus nyaman dan yakin dengan obat yang dikonsumsi, jika tidak obatnya ga akan ada pengaruhnya ke saya. Syukur tanpa mengkonsumsi 2 jenis obat penguat kandungan itu, kondisi saya baik dan janin saya aman selama dan setelah perjalanan dinas. Saya terus melakukan kunjungan lapangan ke Jambi dan Kaltim secara bergantian hingga usia kehamilan 6 bulan. Sebenarnya saya masih ingin terus ke lapangan selama masih bisa dan diperbolehkan terbang, namun dari GM HRD meminta saya untuk tidak ke lapangan lagi. Terakhir kami ketemu pas di site Kaltim dia memang heran sih lihat saya masih ke site, masih ke hutan.

Saya termasuk beruntung dengan kondisi kehamilan yang tidak banyak keluhan. Mulai dari awal kehamilan hingga menjelang melahirkan, hamil tidak menghalangi saya bekerja dan berkegiatan di lapangan. Kalaupun ada keluhan, hanya ketika saya flu berat di trimester 1 dan trimester 3, selebihnya aman. Saya pernah baca bahwa wanita dengan fisik yang baik, biasanya pada saat hamil akan lebih sedikit mengalami mual dan muntah, kram, pusing, cepat lelah, tidak ada nafsu makan, keluhan-keluhan yang umum dirasakan oleh ibu hamil terutama di trimester pertama. Dan saya memang tidak mengalami sebagian besar keluhan-keluhan itu, kecuali mual, itupun hanya mual ringan. Ternyata jalan-jalan saya di hutan selama sekian tahun ini membantu saya memiliki fisik yang kuat! alhasil hamil pun tidak ada kendala berarti. Ayo ibu-ibu yang ingin dan sedang rencana hamil, perkuat fisik ya, rajin olahraga dan kurangi makan gorengan! fisik kuat, hamil sehat, kerja nyaman 😄




Sunday, October 9, 2016

Menikah di Makassar: Ulasan Vendor Venue

Tanggal 5 Mei 2016 lalu saya telah menikah dengan laki-laki pilihan saya, namanya Cipu. Pernikahan kami dilangsungkan di kota kelahiran saya yaitu di Ujung Pandang atau Makassar, Sulawesi Selatan. Berhubung ibu saya masih lumayan dominan darah Minangkabaunya, maka pernikahan, setidaknya resepsi anak-anak Ibu selalu memakai adat Minang.


Pernikahan adat Minang ataupun Bugis cukup populer mengingat kedua suku ini cukup luas gaungnya di Nusantara. Namun yang saya ingin ceritakan disini adalah pengalaman saya mulai dari pesan undangan, tempat, baju pengantin, dll di Makassar. Saya mulai dengan venue alias tempat resepsi ya.

Seandainya saya berada di Makassar mungkin akan lebih mudah ya untuk mengatur segala keperluan menikah. Sayangnya baik saya dan pasangan sama-sama bekerja di Jakarta, sehingga kami harus bisa mengatur keperluan menikah kami dari Jakarta. Mengapa mengurus sendiri? alasannya karena saya pernah berjanji kepada ibu saya bahwa ketika saya menikah, saya tidak ingin kedua orangtua menjadi repot; repot ngurus ini itu dan terutama repot soal biaya!


Saya sempat kesulitan mencari tempat atau venue tempat resepsi. Coba cari-cari referensi dari blog walking, ngulik2 Bridestory dan Bridedept, tetap juga tidak mendapat informasi yang cukup untuk saya dan pasangan memesan ini dan itu dari Jakarta. Beberapa hotel di Makassar seperti Hotel Grand Clarion, Hotel Horison, Hotel Aston biasanya menyediakan Paket Wedding. Namun bagi kami yang tak kalah penting tentunya adalah membaca pengalaman atau ulasan dari para pengantin yang telah menggunakan venue tersebut. Sayangnya mencari ulasan-ulasan itu sungguh sulit. Apakah para pasangan yang menikah di Makassar jarang menuliskan pengalamannya atau karena tidak sempat saja?

Anyway, saya dan pasangan mulai mencari beberapa calon vendor dengan cara:
1. Cari di google, tentu saja, dengan kata kunci, "paket wedding di Makassar".
2. Dari mesin pencari google yang paling banyak ketemu adalah berita tentang event wedding package expo.
3. Di Makassar ternyata wedding package expo hampir setiap tahun ada dan yang paling sering jadi host atau pihak penyelengara adalah Hotel Makassar Garden.
4. Saya bertugas mencari kontak informasi hotel, Cipu bertugas menghubungi hotel-hotel tersebut untuk mendapatkan informasi tentang paket wedding yang mereka miliki.
5. Pengecekan secara langsung ke vendor-vendor hotel kami lakukan ketika kami di Makassar untuk acara lamaran.

Syarat yang kami tetapkan untuk setiap venue yang kami nilai potensial adalah:
1. Lokasi strategis - dapat dijangkau oleh kendaraan umum maupun pribadi dan tersedia tempat parkir.

2. Hotel vs Gedung Serbaguna. Lebih pilih Hotel karena durasi pemakaian bisa lebih lama dibanding Gedung yang rata-rata maksimal 3 jam saja. Kelebihan Hotel yang lain ada lobby yang dapat dipakai untuk ruang tunggu sebelum masuk ke ballroom nya. Juga biasanya mereka ngasih kamar gratis untuk pengantin dan keluarganya. Alasan terakhir lebih milih hotel dibanding gedung karena ibu saya lebih suka kalau acaranya di hotel, katanya sih AC nya lebih dingin, hahah.


3. Ballroom terletak di lantai dasar dan cukup lega untuk menampung tamu 400-500 undangan agar tidak menyulitkan orang tua atau tamu yang harus menggendong anak atau kesulitan berjalan, dan tamu semuanya dapat kesempatan untuk duduk, artinya vendor harus menyediakan kursi yang cukup banyak agar tamu tidak perlu berdiri terutama ketika makan. Saya kurang setuju jika makan dilakukan sambil berdiri, terlebih agama yang saya anut juga mengajarkan bahwa makan sebaiknya dilakukan sambil duduk. Lagi pula saya kasihan lihat orangtua atau anak-anak yang harus makan sambil berdiri, apalagi kalau ada yang harus sampai melantai karena tidak kebagian tempat duduk.. duh (kebetulan pernah melihat adegan ini di salah satu acara resepsi yang saya hadiri).

4. Harga: budget kami adalah Rp. 100-120ribu per pax all in one. Artinya biaya sewa gedung, dekorasi, makanan, kursi, musik/hiburan, pajak, dll sudah termasuk dalam biaya paketnya. Pertimbangan kami kenapa pilih paket all inclusive karena saya dan pasangan tidak selalu ada di Makassar jadi tidak punya keleluasaan waktu untuk ngecek dan pilih ini itu. Dengan kisaran budget yang kami sediakan itu, kami cukup tahu diri untuk tidak mengecek Hotel-Hotel yang masuk kategori high class atau bintangnya banyak seperti Hotel Aryaduta/Horison, Novotel, dan Clarion. 

5. Tersedia fasilitas untuk akad nikah tanpa biaya tambahan atau ada biaya namun minimalis.
Saya inginnya akad nikah dan resepsi dilakukan di venue yang sama, sehingga menghemat biaya, hemat waktu tempuh dari Sungguminasa (rumah orangtua) - venue (perjalanan jika lancar 20-25 menit), juga hemat tenaga. Pertimbangan saya jika akad nikah diadakan di rumah, seperti kebanyakan akad nikah diadakan di rumah orangtua calon perempuan; selain harus menyiapkan dekorasi, makanan, izin keramaian, dll., juga musti siap2 beberes setelah acara selesai. Untuk biaya masih bisalah ditanggulangi, tapi yang saya sangat hindari adalah urusan repot dan stress nya kedua orangtua saya pra dan pasca acara. Orangtua saya belum setuju dengan ide menggabungkan akad nikah dan resepsi di tempat resepsi, terutama ibu yang memegang prinsip bahwa akad seyogyanya dilakukan di rumah orangtua pengantin perempuan.


Venue:
#1. Hotel Makassar Garden
Pros: 
+ Lokasi: Hotel ini terletak di pinggir pantai losari. Setiap lewat pantai losari pasti akan melewati Hotel ini dan mudah diidentifikasi serta mudah diingat karena atap rumah tongkonan yang sangat khas. Dari sisi lokasi Hotel ini cukup strategis dan akan mudah untuk ditemukan sekalipun bagi pendatang atau orang-orang yang tidak tinggal di Makassar.
+ Harga Paket Wedding: Dari sisi harga juga masih masuk ke budget kami. Mereka menawarkan tiga pilihan; Paket Crystal,  Paket Ruby, dan Paket Royal Wedding. Kami juga dikirimkan beberapa foto dari acara pernikahan yang telah dilangsungkan di Hotel ini.
- Kemudahan komunikasi: Yang kami suka dari Hotel ini adalah pihak marketingnya sangat responsif. Cipu cukup telepon sekali dan komunikasi seterusnya dilakukan via email.
Cons: 
- Tampilan luar dan dalam Hotel: Dari luar kondisi hotelnya tampak sedikit menyedihkan; minim tanaman, tampak ada sampah, plang hotel dalam kondisi sudah saatnya diganti, teras dan pintu masuk hotel tanpa dijaga bellboy, serta area parkir kendaraan tamu sangat terbatas. Di bagian dalam, warna interiornya kurang memberi semangat, pun lampu juga tidak banyak sehingga terkesan sedikit redup. - Ballroom terletak di lantai 2 yang hanya bisa diakses melalui tangga: Untuk menuju ke ballroom hanya ada tangga. Jadi kepikir kalau tamunya orang tua dan sudah sulit untuk jalan, kasihan dong kalau harus naik tangga.
- Parkir tersedia di halaman Hotel, namun tampaknya tidak dapat menampung banyak dan selebihnya akan menggunakan sisi/bahu jalan umum. 
Keputusan kami: cari vendor lain. Ayah dan Ibu saya yang turut menemani kami mengecek venue juga tidak merekomendasikan hotel ini.

#2. Hotel Singgasana
Pros:
+ Lokasi: Hotel ini terletak di Jl. Kajaolalido, dua blok dari Pantai Losari, satu blok dari pusat oleh-oleh Sombaopu. Dari Hotel ke Pantai cukup jalan kaki kurang lebih 5-7 menit. Lokasi termasuk cukup strategis dan tidak sulit untuk ditemukan, baik yang tinggal di Makassar maupun pendatang. Hotel ini sebelumnya bernama Hotel Marannu City dan setelah dilakukan renovasi oleh pemilik baru, namanya pun berganti menjadi Hotel Singgasana. Parkir ada di halaman Hotel dan mereka bisa extend ke halaman parkir gedung sebelah jika acara dilakukan pada hari libur. 
+ Harga Paket Wedding: awalnya kami hanya mendapatkan harga paket Tahun 2015 sedangkan harga 2016 belum diluncurkan (kami survei bulan Januari) dan kebetulan Tim Marketing mereka sedang ada acara di luar. Tapi tidak mengapa, staff hotel yang menemani kami kala itu memberikan informasi yang cukup jelas kepada kami. Untuk harga kami diminta mengantisipasi kenaikan Rp. 10ribu-15ribu per pax untuk ketiga paket yang mereka tawarkan: Prince, Queen, dan King. Untuk menu, fasilitas paket dan harga yang ditawarkan, masih masuk ke dalam budget kami.
+ Ballroom terlelak di lantai dasar jadi tidak perlu naik tangga atau antri lift/elevator. Lokasinya yang tepat disisi kolam renang memberi nilai plus karena layout ataupun dekorasi bisa diatur sedemikian sehingga kolamnya menjadi bagian dari layout venue nya.
Cons:
- Sebelum kami cek lokasi langsung, kami ndak nemu kontak email untuk dapat informasi awal. Sayang juga sih di era serba online malah belum dimanfaatkan maksimal. Mungkin client lokal sudah cukup menguntungkan kali ya, hehe.
- Untuk pilih dekorasi tidak bisa lewat Hotel namun kami harus diskusi langsung dengan vendor dekorasi yang bekerja sama dengan Hotel, jadi ya tetap saja ada perlu melakukan trip ke tempat vendor dekorasi ini. Kebetulan wowo (kakak sepupu ibu) meminjamkan beberapa peralatan dekorasi pernikahan Minang, termasuk tabir atau kain background, dan kami ingin memakai ini karena yang pertama tabirnya cakep banget, kedua di pilihan dekorasi tidak ada pelaminan Minang yang ada hanya pelaminan Bugis, Makassar atau Modern, ketiga tidak ada vendor dekorasi Minang di Makassar. 
Keputusan kami: Masuk daftar potensial venue

#3. Hotel Aston
Pros:
+ Lokasi: Di Makassar, salah satu daerah konsentrasi hotel dan penginapan adalah di sekitar Pantai Losari. Sangat masuk akal ya karena Pantai Losari adalah sebagai tempat wisata, tempat niaga dan tentunya tempat kuliner. Hotel Aston di Makassar termasuk hotel yang baru berdiri 5-10 tahun belakangan, tahun persisnya saya juga tidak tahu, jadi dari sisi bangunan masih fresh.
+ Harga: Untuk paket wedding, harga terendah yang mereka tawarkan adalah Rp. 118ribu per pax, juga masuk dalam budget kami.
Cons:
- Parkir: karena halaman Hotel tidak besar maka parkir sebagian besar di basement dan sisanya di sisi/bahu jalan.
- Venue untuk wedding terletak di lantai 18 sehingga harus diakses dengan lift atau elevator. Yang jadi PR adalah ngantri lift nya, pastinya ga sebentar nunggu lift naik-turun ke lt 18.
- Dekorasinya minimalis, hanya di gerbang dan pelaminan saja, sisi kiri kanan dan langit-langit hanya memakai tirai hotel. Bisa saja sih full dekorasi tapi harga pastinya akan beda. 
Keputusan kami:  Coba cek hotel-hotel yang lain dulu

#4. Hotel Swiss-Belin Panakkukang
Pros:
+ Lokasi: Berbeda dengan ketiga hotel di atas, hotel ini tidak berada di seputaran Pantai Loasari, melainkan di daerah Panakkukang dan karena letaknya lebih dekat ke rumah dibanding hotel2 di Pantai Losari, jadi lah masuk kategori + untuk lokasi 😉. Cukup strategis untuk dijangkau karena daerah Panakkukang sudah cukup umum di telingi orang Makkassar. Bangunan Hotel juga masih gress.
+ Parkir: Parkirnya sudah tidak diragukan lagi tersedia banyak, baik di halaman Hotel maupun di parkir gedung sebelahnya yaitu Mall Panakkukang, tapi parkirnya ga gratis alias harus bayar, mungkin karena pengelola parkirnya menjadi satu bagian dengan Mall Panakkukang jadinya pake bayar deh.
+ Komunikasi: Hotel ini tidak masuk radar pengecekan awal sebelum kami berkunjung langsung, utamanya karena ya itu minim informasi hotel-hotel di Makassar yang menyediakan paket wedding beserta detailnya. Hotel ini boleh berbangga karena Staff Marketing nya menurut kami sangat antusias menjelaskan segala hal terkait paket yang mereka tawarkan
+ Ballroom: Ballroom terletak di lantai 1 jadi perlu naik lift/elevator tapi durasinya jelas ga selama kalau harus ke lantai belasan ya jadi masih OK lah menurut kami. Mereka punya dua tipe; satu tipe indoor dan satu lagi outdoor yang saling berdampingan. Jika jumlah tamu undangan cukup banyak, misalnya > 1000 maka keduanya bisa digabung. 
Cons:
- Dekorasi: Hotel ini kerjasama dengan 3 vendor dekorasi, masing-masing dengan paket harga berbeda. Untuk paket dengan harga termurah, dekorasi sama seperti di Hotel Aston, dekorasi hanya ada di Pelaminan dan gerbang masuk, selebihnya menggunakan tirai putih milik Hotel. Jika ingin dekorasi full maka ada tambahan harga, "kira-kira Rp 20 juta saja untuk full dekorasi" terang si staff Marketing sambil tersenyum.  Dia senyum kami yang manyun.
- Harga: Paket Wedding ditawarkan mulai dari harga Rp. 125 ribu /pax - Rp 225 ribu/pax. Kalau lihat daftar menu di paket termurah, kok rasanya sedih ya karena jumlahnya minimal banget. Pun dengan harga paket termurah pun sudah tidak masuk ke dalam budget kami.
Keputusan kami: lewat aja deh

#5. Gedung Islamic Center IMMIM
Pros:
+ Lokasi: Oke, di atas memang saya tulis lebih pilih Hotel dibanding Gedung serbaguna. Namun, oleh tante Cipu, kami juga diminta untuk mengecek gedung ini. Bagi yang bersuku Bugis/Makassar dan Muslim serta orang yang tinggal di Makassar secara umum, gedung IMMIM ini sudah tidak perlu dipertanyakan lah popularitasnya, sangat populer deh pokoknya! Letaknya di Jl. Jend. Sudirman yang merupakan salah satu jalan protokol di Makassar.
+ Harga: Kakak dan adik saya yang telah menikah tahun 2003 dan tahun 2011 sempat nargetin tempat ini sebagai venue resepsi mereka, tapi akhirnya mundur teratur karena harganya di atas budget yang mereka sediakan. Kebayang kan artinya gedung ini untuk upper Middle-High Class jadi meski harganya mahal tetap aja masuk gedung paling populer di Makassar. Tapi ternyata saat kami survey di Januari 2016 ini, harganya diluar dugaan kami, malah yang paling murah dibandingkan keempat hotel yang kami telah survey, tadinya kami kira harganya kurang lebih sama dengan hotel-hotel tadi. Tentunya ini berita baik buat kami karena masuk dalam budget dan juga sudah all inclusive dengan dekorasi full.

Cons:
- Gedung kecil: Jadi di IMMIM mereka membagi gedungnya menjadi 3; sebutannya gedung 1-3, dengan gedung 3 yang paling kecil ukurannya. Sayangnya hanya gedung 3 yang tersedia untuk tanggal acara kami, 5 Mei. Karena ukurannya yang paling kecil jadi keinginan kami untuk menyediakan kursi banyak tidak dapat diakomodasi, paling banyak jumlah kursi sekitar 70-80. Jika lebih dari itu maka ruang geraknya semakin terbatasi. Si Ibu Haji berupaya meyakinkan kami bahwa  gedung 3 ini sangat pas untuk jumlah tamu undangan 500, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. "Sebagian besar tamu ta' nanti berdiri, kan begitu mi yang trend sekarang toh, standing party namanya" terang Si Ibu Haji. Wah sayang kami kurang sepakat dengan pendapat Ibu Haji. Apa yang menjadi trend belum tentu baik atau sesuai dengan ajaran agama kami.
- Parkir: yang sering menjadi keluhan orang-orang yang menghadiri resepsi disini adalah lahan parkir yang minim. Kata ibu saya malah terakhir beliau ke sana, buat nyari parkir saja 10 menitan, dan ga dapat yang dekat dengan gedungnya, harus jalan lagi, tentunya ini peer kan buat yang pakai sepatu/sendal high heels. 
- Kelurga kurang sreg: Terutama dari sepupu2 yang seumuran dengan Cipu, pada kompakan minta untuk acara kami jangan di IMMIM dengan alasan mereka sudah bosan dan perlu suasana baru. Nah ini nih alasan yang paling valid, hehe.
Keputusan kami: coret

Selain kelima venue di atas, kami juga sempat cek Hotel Ibis, namun Hotel Ibis yang di Makassar belum menyediakan Paket Wedding. Teman Cipu, Marlisa, juga sempat cek ke Hotel Santika, tapi harga paketnya terlalu mahal bagi kami, Rp 250ribu/Pax.

Akhirnya kami pilih Hotel Singgasana sebagai tempat atau venue resepsi kami. Alhamdulillah dari segi harga dan pelayanan memuaskan.  Malah dari harga yang kami bayar, kami dapat tambahan bonus, seperti kamar untuk keluarga dari 1 menjadi 2 dan untuk 2 malam. Untuk makanan yang kami bawa sendiri, dikenai charge tarif lama belum tarif baru. Untuk menu pondokan, ibu dan tante2 saya menyiapkan coto makassar, sate padang dan menu satu lagi saya lupa, pokoknya kuliner khas Sulawesi atau Minang gitu deh. Ibu saya akhirnya setuju akad digabung dengan resepsi, jadi akad nikah kami jam 10 pagi dan setelahnya lanjut resepsi sampai jam 3 sore. Oiya, untuk akad kami tidak perlu nambah biaya apapun. Untuk makanan pas akad, diambil dari makanan resepsi sekitar 50 pax. Jadi dengan budget < 65 juta, sudah untuk akad dan resepsi dengan detail: ruangan/ballroom, makanan, dekorasi full, musik/hiburan, buku tamu, parkir gratis, ruang tunggu mempelai perempuan (saat akad hanya mempelai laki-laki yang berhadapan dengan penghulu/imam dan wali perempuan), parkir, dan pajak.

Semoga ulasan ini membantu para calon/keluarga calon pengantin yang sedang mencari venue pernikahan di Makassar.




Monday, November 30, 2015

Balada Travel Jambi

Sejak bergabung dengan sebuah grup perusahaan karet alam akhir tahun lalu, saya kembali menjadi akrab dengan 'travel' sebagai moda transportasi utama saya dari Kota Jambi menuju lokasi kebun, atau sering kami sebut 'site' yang terletak di Kabupaten Tebo, sekitar 6 jam perjalanan dari kota Jambi. Travel ini adalah angkutan umum yang biasanya menggunakan mobil jenis MPV seperti X*nia, Av*nza atau Inn*va.

Sebelum kerja alias semasa kuliah dulu di Jogja, tiap mudik ke Sungguminasa, Sulawesi, yang selalu mengandalkan kapal Pelni yang berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya ke Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar, saya pasti naik 'travel' dari Jogja ke Surabaya, jadi travel ini memang sudah tidak asing lah bagi saya. Hanya, travel di Jambi atau di Sumatera pada umumnya, kualitas pelayanannya belum sebaik kualitas pelayanan travel di Jawa. Kalau travel di Jawa yang waktu itu saja (zaman 2002-2008) sudah full AC, maka beneran full AC, sehingga saya tiap naik travel wajib pakai jaket kalau tidak ya bakal kedinginan sepanjang perjalanan. Sedangkan travel di Jambi, full AC itu hanya tulisan di tiket dan di badan/kaca mobil saja, kenyataannya mah geraah. Ntah AC nya yang bocor (sudah saatnya diservis) atau memang dikecilin outputnya dalam rangka hemat bbm.

Perbedaaan kedua, supir travel di Jawa yang rata-rata perokok, baru merokok kalau pas istirahat dan merokok di luar mobil. Sedangkan yang saya alami di Jambi, kalau drivernya mau merokok ya merokok aja dia, tinggal buka jendela dan asap pun mengepul memenuhi mobil. Sebagai orang yang anti asap rokok, ga kebayang dong dongkolnya saya tiap hal ini terjadi. Meski sudah protes, sering kali dengan cueknya si supir hanya berkata, "buka be jendelanya, kak". Uuh keselnya minta ampun, mau turun tapi nanti saya naik apa, ga mudah ketemu Bus Penumpang yang melintas antar provinsi atau kabupaten, tidak seperti di Jawa yang pilihan dan frekuensinya cukup banyak. Rugi banget saya rasanya, dengan harga tiket Rp. 110,000 kondisi kesehatan saya terdzolimi.😖


Ketiga, kondisi mobil masih lebih bagus mobil travel di jawa, lebih wangi juga, dan lebih banyak pilihan jenis mobil. Ga hanya MPV tapi juga jenis bus mini macam Trav*llo, jadi kalau mau legaan bisa pilih tipe mobil yang lebih gede. Harganya kalau ga salah sih sama saja dengan tipe MPV, beda harga ditentukan dari tujuan aja.

Yaah, kira-kira itu lah tiga perbedaan dasar antara travel Jawa dengan travel Jambi sesuai yang saya alami.

Kembali ke Travel merk Teluk Kembang tadi. Terakhir kali saya naik travel ini yaitu dari kota Rimbo Bujang menuju kota Jambi. Saya berangkat jam 9 pagi dan kebetulan pagi itu hujan turun mengguyur cukup lebat. Saya yang duduk di bangku baris dua dekat pintu terkena guyuran hujan karena sekat pintunya rusak jadi bagian atas pintunya ga bisa rapat dan air hujan pun sukses masuk ke dalam mobil. Alhasil baju dan celana saya basah separuh badan saya (sebelah kiri). Si abang supir minta maaf tapi ga bisa ngapa2in juga karena pintu mobilnya yang rusak dan sayangnya dia hanya supir, tidak merangkap mekanik. Kejadian itu jadi pengalaman yang paling tidak mengenakkan, selain kejadian supir merokok dalam mobil. Sejak itu saya bertekad untuk tidak naik travel ini kecuali dalam keadaan sangat terpaksa karena tidak dapat travel lain.

Dalam rangka menghindari menggunakan Teluk Kembang meski merupakan langganan kantor, saya pun mulai mencari alternatif travel lain, dan akhirnya saya mencoba Travel merk Tebo Gemilang. Dari sisi pelayanan saya cukup puas karena secara umum lebih baik lah dari merk sebelumnya.  Supir yang mengendarai mobilnya juga lebih enak, lebih halus, lebih manusiawi lah. Daan yg menurut saya penting adalah supirnya ga merokok di mobil! Supir hanya merokok ketika berhenti di rumah makan dan yang jelas di luar mobil lah merokoknya. Karena rata-rata jumlah penumpangnya tidak sebanyak Teluk Kembang, jadi saya selalu bisa mendapat kursi di depan, disamping supir. Untuk harganya sama dengan Teluk Kembang, sedangkan untuk AC nya sendiri, yaa mungkin sudah standar travel di Jambi kali ya, AC nyala tapi tidak jaminan membuat penumpangnya adem.

Beberapa teman yang mengetahui saya kini menggunakan travel Tebo Gemilang kompak menyarankan saya untuk tidak naik travel tersebut karena kantor/ruko dimana travel ini bermarkas, juga adalah tempat jual tuak (minuman alkohol tradisional). Waduuuh... teman-teman yang sudah lebih dahulu mengetahui hal tersebut memang tidak ada yang mau naik travel tebo gemilang, tentunya karena khawatir drivernya telah minum tuak sebelum mengendarai mobil. Saya tentu saja juga jadi khawatir dan panik, terlebih saya ini kan belum nikah! (penting).

Lalu ada teman yang menyarankan saya untuk coba naik travel merk Ceria. Kata teman saya sih sih pelayanan Ok, lebih baik dari Teluk Kembang. Saya pun berniat mencobanya. Cuman, tiap saya telepon ke Ceria dan mau booking satu tempat, malah jam berangkat yang saya inginkan tidak tersedia. Saya maunya yg berangkat siang, eh armada mereka hanya berangkat jam 8 malam. Sering juga saat saya mau tanya jadwal, hari yang saya inginkan malah tidak ada armada yang berangkat. Walaah ini bagaimana mau dicobain kalau waktunya ga sesuai terus. Ini sih sama aja macam jodoh yang dipaksakan... ga bakal jadi deh.



Akhirnya meski khawatir dengan kemungkinan supir Tebo Gemilang minum tuak sebelum mengendarai kendaraan, saya rasa saya masih lebih bisa menerima resiko itu dibanding jika harus naik Teluk Kembang yang jelas pelayanannya tidak membuat nyaman dan menganggu kesehatan saya dengan supirnya yang merokok. Lagipula supir minum tuak itu kan baru kemungkinan ya belum ada faktanya. Toh sejauh yang saya perhatikan selama beberapa kali naik travel ini supirnya terlihat sangat sadar2 aja (duh semoga saya tidak salah mengidentifikasi orang sadar vs orang sehabis minum tuak). Dan juga resiko berkendaraa pasti selalu ada, terjadi sesuatu dalam perjalan itu tergantung ajal/musibah kan.. iya kan.. kan.. kan? Semoga saya dan kita semua yang harus menempuh perjalanan selalu dilindungi dari marabahaya. (mencoba berpikir positif sembari dalam hati berdoa kenceng2 supaya selalu selamat).

Terakhir tentunya semoga travel di Jambi khususnya dan di Sumatera umumnya, ada perbaikan kualitas pelayanan sehingga bisa menyamai kualitas travel di Jawa. 
Ayo dong yang di Jawa tularkan ilmunya ke sini. Atau ayo dong para penyedia jasa travel di Jambi, belajar ke Jawa gih supaya servisnya lebih markotop bin aman.


Monday, November 9, 2015

Download e Book Gratis

Update Update Pembaharuan Informasi..!

Untuk alamat situs penyedia buku (ebook) gratis silakan kesini ya: 

Tersedia sejuta+++ buku dari berbagi genre, dari yang serius sampai yang melankolis, bahkan komik Detective Conan pun ada (tapi serinya ga lengkap sih, hehe)! 
Contoh tampilannya seperti di bawah ini ya. Yang paling seri ketemu filenya dalam versi PDF dan EPUB jadi tinggal pilih format file yang diinginkan. 



Buat yang suka baca dan senang buku gratisan, seperti saya, ada beberapa situs yang menyediakan buku gratis. Tapi ini khusus yang format ebook ya, yang bacanya melalui ebook reader: kindle, kobo, nook, iPad, google play book, dan semacamnya. Sebelum klik tombol 'download', pastikan jenis file yang dipilih sesuai dengan ebook reader yang dimiliki. Misalnya jenis file epub untuk Kobo, Nook, iPad, Sony Readers.
Langsung aja ke alamat situs2 penyedia ebook gratisan ya.

1. http://tuebl.ca/ --> sayangnya sekarang sudah bukan tempat ngunduh buku2 gratis lagi. Sila lihat bagian atas untuk tempat buku-buku gratisan. 

Situs ini pertama kali saya ketahui pada tahun 2013. Saat itu saya sedang mesra2nya dengan Kobo, ebook reader yang pertama kali saya beli. Dalam hati saya berharap, semoga dia seperti jodoh, satu untuk selamanya.. jiyaaaah.
Ok, karena baru pertama kali punya ebook ereader jadi maunya bacaaa terus dan maunya punya buku yang banyak sekaligus. Sebenarnya ini pelarian juga sih karena saat itu saya sedang mumet2nya dengan perkuliahan. Baru kali ini rasanya otak serasa diperas, tiap hari tiap saat kudu baca artikel ilmiah, ngerjain tugas dan masuk kelas! karena khawatir kalo dipaksa terus otak ini jadi sedeng, jadilah dia saya alihkan dengan..... shopping! hahah.. yah walaupun belanjanya jadi itu tu si Kobo, the ebook reader.

Kembali ke situs tuebl.ca
Untuk mendapatkan ebook disini caranya gampang banget. Setelah berhasil masuk ke situsnya, di barisan 'Bar' nya pilih aja 'search' atau 'browse'. Bisa pake judul buku, judul seri ataupun penulisnya. Setelah ketemu buku yang dicari, tinggal cari tombol 'download' deh. Saya baru aja download bukunya J.K. Rowling yang The Story of Dolores Jane Umbridge :-).

Koleksi buku di situs ini sangat banyak tapi ya jangan berharap terlalu tinggi juga karena yang namanya gratisan, biasanya buku2 yang baru terbit/liris belum masuk disini. Tapi jangan khawatir, kamu cukup bermodalkan kesabaran maka 3-6 bulan, cek lagi aja di Tuebl siapa tahu udah ada.

2. https://archieve.org --> sayangnya sekarang sudah bukan tempat ngunduh buku2 gratis lagi. Sila lihat bagian atas untuk tempat buku-buku gratisan. 

Bulan Agustus silam, entah mengapa tuebl lagi ngadat, mungkin servernya lagi down atau pada saat yang bersamaan terlalu banyak orang yang download buku. Padahal kebiasaan saya abis nyari rekomendasi buku untuk  dibaca, pasti bawaannya ngotot untuk dapatkan buku itu, bagaimana pun caranya, gratisan tentu tetap prioritas (hahah ga modal). Setelah beberapa menit berselancar di dunia maya mencari beberapa buku berdasarkan BBC's 100 books of all time, tibalah saya di situs ini. Situs ini luar biasa baiknya. Berbagai jenis file; ebook, lagu, video, bahkan software tersedia disini dan gratis.Singkatnya mungkin seperti ini: you name it, they have it. Saya pun sampai ternganga melihat betapa variatif & lengkap koleksinya (ternganga ini kata dalam bahasa indonesia bukan sih? haha). File undang-undang atau naskah-naskah lama sepertinya juga ada disini.

Di archieve ini saya mendapatkan antara lain buku Moby Dick dan The Catcher in the Rye.


3. goodreads --> yang ini masih menyediakan buku gratis. sila berselancar dan mencari, jika ada berarti jodoh, jika tidak berarti cari di tempat lain ya atau minjem ke teman.

Ini adalah situs ketiga yang baru beberapa bulan lalu saya tahu menyediakan ebook gratis. Biasanya saya main kesini kalau mau nyari referensi buku lokal, alias karya anak bangsa. Saat itu saya sedang nyari resensi untuk trilogi Bekisar Merah milik Ahmad Tohari. Karena buku Ahmad Tohari ini sudah sejak lama saya cari tapi belum ketemu juga. Nyari di Gramedia toko, seringnya ga ada, nyari di gramedia online, belum dicetak lagi (pantes ga ada di tokonya). Nyari di periplus toko dan online ga ada juga (ya ini sh patutlah wong toko ini jualannya buku2 tulisan luar yang berbahasa inggris itu). Nyari di Bukalapak, ada yang sih ketemu tapi hanya 1 buku dari Trilogi, ntar saya bacanya nanggung klo selesai buku 1 tapi buku 2 dan 3 belum nemu, bisa penasaran sepanjang waktu saya. Lalu saya pun iseng ke goodreads, mau liat ratingnya. Eh ternyata saya malah dapat Trilogi Ahmad Tohari yang lain, Ronggeng Dukuh Paruk, dalam bentuk ebook (file PDF), gratis! sejak itu lah saya tahu bahwa Goodreads juga menyediakan ebook gratisan. Dan senangnya, kalau di tuebl maupun archieve saya belum pernah sekalipun nemu ebook dari karya orang Indonesia, di Goodreads ini yang ada.

Tampilannya seperti ini. Lihat apakah tersedia pilihan "Download eBook". EBook bisa didapatkan tanpa harus punya akun goodreads. 




Biar ndak dibilang PHP, saya mau ngasih tahu bahwa jangan berharap maksimal ya pada situs-situs ini. Kalau pas buku yang dicari ada di diantara ketiga situs ini, ya berarti memang sudah rezeki, tapi kalau ga, ya berarti kudu beli, atau pinjam punya teman/perpustakaan.  

Selain situs ebook gratisan, bagi pengguna ebook redear mungkin tertarik dengan Calibre. Ini adalah software pengelola ebook reader. Disini juga ada converternya, jadi misalnya mau baca artikel atau buku tapi masih dalam format pdf sementara reader yang dimiliki Kobo, filenya bisa langsung dikonversi ke format epub file. Untuk mendapatkan software ini cukup di googling ajah trus tinggal download software pada situs yang menyediakan. Dan seperti halnya ketiga situs di atas, software ini juga gratis. Saya menggunakan Calibre ini agar dapat membaca beberapa artikel ilmiah yang umumnya dalam bentuk PDF di Kobo saya. Selain hemat kertas hemat tinta banget, saya tidak perlu selalu bawa kamus terpisah karena Kobo sudah punya built in dictionary, artinya punya kamus yang tertanam di devicenya. Jadi mau baca bahan untuk tugas essay bisa dimana aja tanpa harus rempong.


Sekian sharing dari saya.
Selamat mengunduh buku dan selamat membaca :-)