Pages

Saturday, January 24, 2009

lampu ajaib

seminggu terakhir lampu depan rumah 'bulet' kontrakanku mati. sebelumnya sih gak apa2, tetep nyala saat dia merasa sudah waktunya untuk menyala. tidak ada tanda2 yang mencurigakan sebelum dia mati. jadi, saat menemukan dia tidak beraksi seperti biasanya, aku sempat heran sejenak. tapi sedetik kemudian langsung kucuekin. 'ah, paling macet bentar. besok juga dah idup lagi' pikir ku nyantai.

besoknya, si lampu belum nyala.
kutungguin besoknya.,
besoknya dan besoknya (sampai td malam), si lampu tetap belum nyala.
wah, ini mah 'is dead' beneran.

akhirnya tadi pagi aku coba menengoknya.
ku longokkan kepala ke atas.
bentuk lampu tidak berubah. tetap lonjong ke bawah, tidak brubah menjadi bulat.
pantatnya seperti telur yang dibelah dua. lampu dan pantatnya sebenernya berwarna putih.
tapi karena sudah diselimuti oleh debu jadinya mereka warna coklat juga deh.
disampingnya ada lampu neon yang selalu mengingatkanku pada rumah papi di makassar.

"apa karena gak pernah aku bersihin yak makanya mati?" tanyaku dalam hati
"enggak ah, paling karena bola lampunya putus" aku coba ngeles

kuperhatikan sekali lagi lampu itu.
lampu ajaib yang saat malam menjelang, atau ketika hari tiba2 menjadi gelap karena mendung misalnya, langsung menyala.
yup. dia memang lampu ajaib yg bisa menyala sendiri tanpa perlu aku memencet saklar lampu.
dia memang lampu ajaib yang memiliki otorita dan kepekaan untuk menentukan waktu yg tepat baginya untuk menyala.

saat ibu masih disini, beliau tidak henti2nya mengagumi lampu tersebut. maklum, lampu di rumah kan (makassar) masih manual banget. kalau mo dinyalain ya mencet dulu tuh saklar.
tapi yang membuat beliau lebih takjub adalah pembuat lampu ajaib ini. berulang-ulang dia mengucapkan, "memang canggih ya mas narto itu. bisa bikin lampu ajaib!"

Friday, January 23, 2009

diantara hasrat dan bimbingan; ada janji dan kecewa

saya sebenarnya sangat menyukai aktivitas saya.
siapa sih yang tidak akan mensyukuri jika memiliki aktivitas harian yang sesuai dengan hasrat dan minat? ya, saya beruntung dalam hal ini, dan karenanya saya bersyukur.

tapi dalam beberapa bulan terakhir saya temukan beberapa hal yang membuat saya tidak nyaman.
mungkin bukan sesuatu hal yang prinsip (bagi beberapa orang), tapi saya kecewa.

pada posisi tertentu, bukannya memberi arahan atau membantu mencari solusi, saya malah sedikit diancam. mentang2 saya anak baru...

saya trauma terhadap janji. janji apapun itu. tapi seringnya saya masih terkecoh dan mempercayai suatu janji begitu saja.

suatu hari di akhir tahun, seseorang memberikan janjinya..,
"saya akan support kamu... ini dan itu... "

tidak lama berselang, janji orang tersebut saya tagih.
mengharap kalimat yang sama seperti diucapkan pada saya tempo hari, saya sedikit santai.

ternyata saya terkecoh lagi!
alih-alih membantu, saya malah disuruh mencari sendiri tutup lubangnya.
meski bertanya-tanya dalam hati, saya kerjakan saja.
syukur tak terkira, ada yang bersedia memberikan sedikit bintangnya.
sebenarnya saya kecewa karena terpedaya sekali lagi oleh janji. tapi saya juga bersyukur, ada satu lagi pelajaran berharga yang saya dapatkan. pelajaran kecil, tapi saya yakin sangat berarti.

lembar-lembar penentu keberadaan saya disini, saya biarkan tetap dalam laci. ntah sudah berapa lama mereka teronggok di sana. berdiam dalam gelapnya laci ukuran 50cmx50cm, bersama peta-peta cuplikan bumi.
biar saja.
karena lembar2 tersebut, saya jadi susah tidur.
bukan karena isinya., tapi pada sikap orang yang memiliki otoritas atas mereka.
yang menunjukkan ketakutan.,
yang menurut saya lucu dan tidak seharusnya.
terlebih jika ditunjukkan secara frontal.

saya sebenarnya mengharapkan bimbingan.,
tapi jika harus situasi yang mengambil alih tugas itu,
baiklah.
akan saya tunggu perkembangannya.

Tuesday, January 13, 2009

my brother, the one and only [part TWO]

ada satu kejadian yang cukup heboh. ini terjadi saat adekku smp. zaman dia smp itulah masa-masa dia mukanya jadi jelek (kata omku) dan buandel del del.....

pagi itu, ntah kenapa susah payah ibu membangunkan si bontot. "adid... did.. bangun. adid diiiid.." begitu teriak ibu berulang-ulang. aku dan kakakku yg sudah lebih dulu dibangunkan sampai sakit telinga mendengar teriakan ibu yg tiada henti. heran juga kok ibu kuat banget teriak gak ada istirahatnya.

kamar tidur pendi di lantai atas. jadi, sgala macam alat utk membangunkan dia termasuk peluit pramukaku tidak mempan. karena ibu jg tdk mungkin bolak2 naik ke atas, jadi teriakan lah yg dianggap ampuh, disamping itu kegiatan ibu menyiapkan sarapan bisa tetap berjalan.

rupanya, bukan hanya aku dan kakakku saja yg terganggu karena ritual pagi ini. ayah, yang sehari-harinya pendiam dan cuek, tiba-tiba naik ke atas ke kamar pendi..
"xxx???/////ahnfcmdfbhnse... keluar saja sana kalau tidak mau di atur!!!" itulah kalimat terakhir ayah (yg tertangkap olehku) setelah selesai menyeret pendi dari kamarnya sampai ke teras rumah.

aku, kak tetty dan ibu hanya bisa terpana melihat kejadian itu.

tidak ada yang bersuara.
aku melihat ekspresi adikku yang kaget (pasti stengah mati) bercampur horor bercampur sebel (stengah mati juga). si pendi tidak berkata apa2. masih dengan celana pendek, dia berlari kembali ke kamarnya. sedetik kemudian dia sudah keluar dr kamar dan menuruni tangga dengan stengah berlari. rupanya dia menggambil baju kaosnya (klo tidur adikku memang slalu telanjang dada).
pendi tidak berpaling sedikit pun. tidak ke arah ibu ataupun aku dan kakakku.
aku hanya bisa melihat ada yang mengalir di pipinya, air mata. pintu pagar dibuka dan dia berjalan pergi.

sedangkan ayah, setelah menyeret pendi, kembali masuk ke kamar. keluar lagi setelah berpakaian lengkap. lalu dia menghidupkan mesin motor. sebelum sempat berteriak, aku sudah berada di dekatnya. kami pun berangkat ke sekolah. tanpa sempat menyentuh sarapan yang telah disiapkan ibu.

selama di jalan, kami hanya terdiam. tidak ada percakapan., sehari-harinya juga tidak ada percakapan sih, tapi setelah kejadian tadi, diam-diaman ini terasa sangat berbeda.

bukan sekali ini ayah marah. tapi ini jelas yang paling horor. ayahku ini memang pendiam. komentar singkat pun jarang. kalau ingin sesuatu spesial, misalnya ingin berkemah atau naik gunung, aku akan bilang ke ibu. lalu ibu yang akan menegosiasikannya dengan ayah. semua keputusan tergantung dari kuat tidaknya lobby ibu.

aku jalani hari di sekolah seperti hari-hari sebelumnya. teman-teman atau guru di sekolah tidak ada yg tahu kejadian ini. mungkin hanya beberapa tetangga rumah yang sempat mendengar.

saat pulang ke rumah, pendi ternyata belum pulang.
"ibu sudah cari tadi, tapi tidak ketemu" keluh ibu. kulihat raut mukanya didominasi oleh rasa gelisah.
aku juga tidak tahu musti berbuat apa. saat ayah pulang, ibu mengeluhkan hal yang sama. mungkin mengharapkan dukungan, tapi jawaban ayah menandakan perasaannya tetap seperti pagi tadi, "kenapa musti dicari?! biar saja anak itu. biar tahu diri!"

malam ini, kami tidur tanpa mengetahui si bontot ada dimana.
mungkin ibu tidak bisa tidur. mungkin ayah juga tidak tidur.

keesokan hari. untuk pertama kali dalam sejarah, ritual pagi berisi teriakan ibu membangunkan anak2nya tidak terdengar. kakakku yang lebih dulu bangun langsung mencubit tanganku, 'heh mila, bangun!" katanya dengan pelan tapi bernada galak.

tanpa banyak ba bi bu, semua dilakukan layaknya hari-hari biasa. yang berbeda adalah suasananya yang lebih hening, tapi juga mencekam.

meski begitu, kulihat ibu tetap berusaha bersikap biasa, seperti tidak terjadi apa2. ibu masih tetap menyiapkan sarapan, menyiapkan baju untuk ayah, dan memanggilku dengan 'nunut'

saat pamitan berangkat sekolah, ibu berkata padaku, "nut, nanti langsung pulang ya. jangan singgah kemana-mana". aku menggangguk padanya dan segera berangkat tanpa menoleh lagi.

sesuai pesan ibu, begitu bel sekolah berbunyi, aku langsung pulang. ibu segera menyuruhku makan. kami berdua lalu ke tempat arfan, teman pendi.
"tadi pagi ketemu, tante. sudah saya bujuk supaya mau pulang, tapi dia tidak mau. katanya sudah diusir keluar dari rumah sama ayah.
"ya sudah, makasih ya nak" ucap ibu dengan lirih.
aku hanya bisa tetap menggandeng tangan ibu. tidak tahu musti berkata apa kepada ibu.
"tapi nanti kalau ketemu, saya bujuk lagi, tante" sambung arfan lagi.
aku menolah sekilas ke arfan. dia tersenyum, tipis. setipis harapan si bontot mau di ajak pulang.

......
cerita sebelumnya
my brother, the one and only [part ONE]