Pages

Monday, January 24, 2022

Kasta Masker

Pandemi Covid19 sejatinya turut menambah panjang daftar kasta atau kelas diantara masyarakat, salah satunya adalah masker. Masker sebagai bagian dari protokol kesehatan alias prokes telah sangat akrab di kita, setidaknya di masyarakat jabodetabek sejak Covid19 mulai menerjang masuk ke Indonesia di bulan Maret tahun 2020. Seketika itu juga masker yang biasanya hanya dipakai orang-orang tertentu yang bekerja di rumah sakit, menjadi kebutuhan bagi semua masyarakat; semua umur dan semua golongan. Yang biasanya harga 10ribu dapat 2 lembar, tiba-tiba menjadi 200-300 ribu untuk 20-25 lembar, bahkan ekstrimnya harganya pernah hampir mencapai 400ribu sekotak isi 25 lembar. kebutuhan yang tiba-tiba membludak menjadikan masker menjadi benda yang sungguh berharga bagi setiap orang. 

Kini, setelah 2 tahun pandemi ini melanda, harga masker lebih 'normal' harganya dan dengan varian merk, bentuk, serta warna yang dapat dipilih, tentunya sesuai dengan kerelaan untuk membayar harga masker yang dipilih. Kalau sebelumnya ada merk Sens1 yang harganya paling premium untuk masker sehari-hari, sekarang ada merk P*kana. Ya, ampun saya naksir dengan masker anaknya yang tipe 3D tapi begitu lihat harganya saya patah hati, mahal betul. Kenapa sih beda harganya jauh banget dengan masker lain? kenapa sih produsen senang banget menciptakan kasta baru di kehidupan masyarakat? ini lho buat dipake sehari-hari, mana sekali pakai pun, kenapa tidak buat 1 standar saja dan dengan harga sama? kenapa kenyamanan dan proteksi lebih (2 ply vs 3 ply vs 4 ply) dalam masker hanya boleh dinikmati oleh orang-orang tertentu? ini kan situasi pandemi ya dan menurut World Bank ini akan berlangsung bertahun-tahun.  Kalau sebagian besar orang Indonesia mampunya beli masker yang kualitasnya masih tanda tanya, sama saja dong sebagian besar orang Indonesia tidak terlindungi dengan baik dan ini otomatis artinya resiko penularan juga ga akan turun-turun. 

Jadi tolong lah para produsen masker, jangan cuan terus yang dikedepankan. Ingat, ini situasi pandemi dan waktunya lama, jangan lah lagi perparah jurang sosial ekonomi yang sudah ada. Setidaknya mereka yang secara finansial memang tergolong miskin dan yang terkena imbas pandemi secara ekonomi (diberhentikan, pengurangan gaji, dll) tetap berkesempatan untuk mendapatkan masker yang nyaman, full protection, dan terjangkau. 

Jangan ada kasta masker diantara kita.

Saturday, September 19, 2020

Ka-eR-eL

Rasanya ingin kuhindari saja naik Kereta Rel Listrik (KRL) ini sekalian, namun apa daya, dompetku tak mampu. 

Sejak pindah kerja dan mulai berkantor di Daerah Slipi, Jakarta Barat, moda transportasi pilihan utamaku berganti dari sebelumnya ojek motor (pangkalan atau online sama saja buatku karena tarifnya tidak jauh beda) menjadi KRL. Kenapa? pertama karena opsi yang lain seperti ojek motor membuatku menghabiskan waktu lebih lama di jalan di tengah deru dan asap knalpot beribu kendaraan, sehubungan dengan jarak kantor yang lebih jauh dari kantor sebelumnya. Kedua karena naik KRL biayanya lebih murah dan rata-rata durasinya lebih cepat. Iya dong mana ada orang yang naik KRL trus telat nyampe kantor dengan alesan macet? ga ada kan, yang ada juga karena kerusakan kereta atau yang lain, ini pun jarang banget kejadian. 

Naik KRL bukan hal yang baru sih buatku karena di kerjaan sebelumnya aku juga cukup sering naik KRL, tapi tidak pernah mengalami seperti yang ada di anime Jepang, yaitu saking penuhnya isi kereta sampai petugas harus mendorong sekuat tenaga dari luar kereta. Ya karena kantor lama itu letaknya berlawanan arus dengan kebanyakan tujuan pekerja pada umumnya di area Jakarta Pusat dan sekitarnya, sedangkan aku tinggal di Kalibata dan kantor di Pasar Minggu, jadi otomatis aku tidak pernah berdesak-desakan di dalam kereta, malah hampir selalu dapat tempat duduk. Di kerjaan baru ini lah aku mulai merasakan menjadi seorang pekerja di Jakarta yang sebenarnya = perjalanan pergi - pulang rumah ke kantor adalah perjuangan. Lebay ya, padahal baru naik KRL aja sudah bilang perjuangan. Yang lebih tepat dikatakan perjuangan itu adalah 'Hidup' karena katanya Once, "hidup.. adalah perjuangan tanpa henti-henti..." tsah.

foto dari https://www.dailymail.co.uk/travel/travel_news/article-3264855/What-experience-time-things-badly-holiday-Incredible-images-world-s-extreme-rush-hours.html

Jadi apanya sih yang naik KRL itu perjuangan? 
Jam 6 pagi aku dah mulai jalan menuju Stasiun Kereta Kalibata. Tinggal di Apartemen Kalcit itu salah satu keuntungannya adalah dekat dengan stasiun KRL, jaraknya sekitar 5-7 menit saja dengan berjalan kaki. Pede lah ya jalan jam segitu yang pasti ga akan telat secara jam kantor baru mulai Jam 8. Berangkat jam segituan juga kira-kira isi KRL masih muat lah ya untuk beberapa orang lagi dari stasiun ini. Begitu nyampe stasiun, kereta jurusan Tanah Abang tiba. Jreng2 dasar akunya ga pernah naik kereta yang jam 6an jadinya perkiraan meleset. Kereta ternyata penuh nan padat, yang udah nunggu di stasiun ga kalah banyaknya. Kaget dong dan aku pun bingung dengan kepadatan segitu apa mungkin masih bisa masuk?.. tatkala ku masih sibuk memikirkan cara untuk masuk ke kereta, orang-orang yang sudah ada menunggu di stasiun langsung bergerak tanpa ragu sedikitpun menerobos masuk ke dalam gerbong-gerbong kereta. Adegan kereta padat di dalam anime Jepang kini terlihat nyata; tas di pegang tinggi-tinggi sambil badan mendorong masuk ke gerbong, ada juga yang tas punggungnya langsung dipindah kedepan jadi tas dada dan kedua tangan digunakan untuk mendorong, yang perempuan tote bagnya dikepit rapat, lalu dengan mantap menerobos masuk ke kereta dengan cara mendorong barisan manusia yang telah ada di dalam kereta, yang badannya mungil, dengan lincah menyelinap masuk di sela-sela kerumunan manusia. Tersisa lah aku yang masih berdiri di stasiun; tertegun dan termangu seakan tak percaya peristiwa yang hanya sekitar 1 menit itu. Baru juga ingin melangkahkan kaki mengikuti jejak para pejuang-pejuang KRL, pluit kereta berbunyi disusul oleh pintu-pintu gerbong yang menutup diri. Sedetik kemudian akupun ditinggal oleh Sang Masinis yang pergi bersama serangkaian gerbong kereta menuju stasiun berikutnya.  
Okeh, kataku dalam hati mantap, kereta berikutnya aku tahu apa yang harus dilakukan, pasti bisa masuk gerbong. 

Setelah menunggu beberapa menit, kereta jurusan Tanah Abang berikutnya pun tiba. Sedikit berharap kepadatan tidak separah kereta sebelumnya. Tentu saja harapan kosong, justru kelihatannya malah lebih padat isi kereta kali ini. Calon penumpang lain yang telah menunggu di stasiun tampak mulai bersiap-siap, bersiap menerjang lautan manusia demi terangkut oleh KRL. Aku pun tak mau kalah dan langsung bersiap. Kereta tiba, pintu gerbong terbuka, seketika itu juga terjadi pergerakan oleh calon-calon penumpang KRL. Meski sudah berusaha untuk ikut menerjang, ternyata aku gagal. Gagal karena masih ada sedikit kesangsian di dalam hati.. bisa ga ya? bisa ga ya? duh padat banget.. gila manusia banyak banget sih.. kok ga berbaris aja sih untuk masuk kereta seperti klo baris mengantri di loket?.. dan lain-lain dan seterusnya berkelebat dalam diri. 

Akhirnya di kereta ke-3 barulah aku sukses masuk ke dalam kereta, udah sempai keringetan dan nunggu hampir sejam, buang-buang waktu banget ya. Kalau naik ojek mungkin udah mo sampai ini mah. Tapi ga papa lah pengalaman, hari berikutnya harus sukses di percobaan pertama!

Bagaimana setelah berada di dalam kereta?
Begitu masuk di dalam kereta, ku langsung mencari sandaran hati tiang untuk berpegangan sembari satu tangan memegang kuat-kuat tas. Di bagian dalam atau tengah kereta ternyata sedikit lebih lega dibanding di sekitar pintu gerbong. Ga tahu juga sih kenapa pada dempet-dempetan di dekat pintu. Jadi begitu sudah dapat pegangan ya sudah deh tinggal berdiri sampai nanti tiba di stasiun tujuan. Penumpang paling banyak turun di stasiun Sudirman, pusatnya perkantoran, nah biasanya langsung ada bangku yang kosong. Kalau masih kuat berdiri aku lanjut berdiri, toh tinggal 2 stasiun lagi. Tapi kalau pas bangku yang di depan kosong dan sekitar ga ada orangtua atau hamil, ya aku duduk aja. Kata ibuku, jangan suka menyia2kan sesuatu, mubasir.. ya sudah daripada kosong bangkunya ya aku duduk lah. Kasihan juga kan bangkunya sudah dibuat tapi begitu kosong trus ga dipakai, bisa sedih deh perasaan si bangku dan si pembuat bangku kereta... 

Bagimana supaya bisa lebih nyaman naik KRL? Kalau aku sih yang tadinya pakai sepatu berhak jadinya ganti sepatu lari; jari kaki semua aman terlindungi dan karena haknya datar jadi ga bikin cepat capek kala harus berdiri. Sepatu hak aku simpan di kantor jadi begitu nyampe kantor tinggal ganti. 

Gerbong campur atau gerbong khusus wanita? Sebenarnya aku lebih suka di gerbong wanita karena wangi parfum dimana-mana jadi meski padatnya macam ikan sarden yang saling menempel di dalam kaleng, ku dikelilingi oleh beraneka wewangian. Tapi yang katanya gerbong wanita itu lebih sadis bin ganas, benarlah adanya, sepertinya ada Dinda yang senantiasa ada di gerbong khusus perempuan ini. Sadis bin ganasnya itu yang aku lihat masih banyak yang muda-muda masih segar suka ga mau ngalahan sama ibu-ibu yang kelihatannya tua, pura-pura tidurlah dll. Kalau pas ada bangku kosong, rebutan secepat kilat, Flash aja kayaknya kalah cepat tuh. Juga sering ga mau bagi ruang berdiri dikit aja, geser se-centimeter aja kayaknya berat banget, macam diganduli sama beban hidup, uaboot rek!
Jadi gerbong campur itu lebih manusiawi sedikit tapi ya gitu, wangi parfum dan bau ketek saling bercampur yang suka bikin sakit kepala. Jadi kalau di gerbong campur pun, aku biasanya langsung cari yang dekat-dekat perempuan, selain wangi juga supaya jauh-jauh dari pelecehan seksual. Ngeri baca kasus-kasus di KRL yang ternyata ga sedikit dan sayangnya sangat minim yang kemudian berhasil diproses hukum. 

Supaya tas aman dari copet? tas ransel (daypack) atau tas selempang atau tas tote, tasnya aku taruh di depan di dada, satu tangan mengepit tas, tangan yang lain pegang tiang. Mau penuh mau rada kosong isi kereta, tetap aja seperti itu pegang tasnya, jangan lengah karena copet tidak pernah lengah. Ingat kata mama Bang Napi:

                                   foto dari https://www.boombastis.com/bang-napi-susah-dilupakan/123479                               
       
Kira-kira begitulah pengalamanku saat harus mengandalkan moda KRL di tahun 2014-2016 lalu. Ujung-ujungnya sih kita harus bersiasat ya mengikuti kemampuan isi dompet. Disyukuri masih punya pekerjaan yang memberikan pendapatan rutin, sembari juga meningkatkan kualifikasi supaya bisa naik gaji atau pindah tempat kerja dengan gaji lebih baik atau jarak lebih dekat, dan ga perlu lagi naik KRL misalnya, hehe.  

Friday, May 17, 2019

kami (seperti) pasangan ideal

Sejak bulan Februari 2014 saya menyewa satu unit apartemen di daerah Jakarta Selatan. Saya tidak sendiri melainkan berdua dengan seorang teman. Namanya Nina. Nama julukannya sempat ada beberapa, yang cukup terkenal adalah Kinoy, Miss Rhino dan Miss Pantura. Kini ia lebih suka dipanggil dengan sebutan Miss Indonesia, julukan yang disematkan padanya oleh tour guide saat kami berlibur ke Thailand. Lebih pas sih dengan Miss Indonesia karena julukan 'Miss Pantura' mah udah ketinggalan angkot alias udah ga cocok. 

Unit apartemen yang kami sewa ukurannya 36m2 dan memiliki 2 kamar; satu kamar utama dan satu kamar ukuran lebih kecil. Sudah full furnished, dapur lengkap dengan kulkas, tempat tidur beserta lemari, sofa kecil plus dengan tv nya. 

Awalnya saya mengira saya akan mendiami kamar yang lebih kecil. Saya pun tidak masalah sama sekali, karena barang saya lebih sedikit dibanding barang milik Nina sehingga dia pasti membutuhkan kamar utama yang ukurannya lebih besar. Namun, Nina memutuskan untuk kami berdua tidur di kamar yang sama, di ranjang yang sama yang kebetulan ukurannya 160 x 200 cm, family size. Saya sebenarnya sedikit kaget karena terus terang saya belum begitu lama kenal dekatnya dengannya. Khawatir juga dia ga terbiasa berbagi kamar apalagi berbagi kasur. Kalau saya sih dari kecil sampai kuliah pun memang selalu berbagi kamar berbagi kasur karena dana terbatas. Nah saya mulai dekat dengan Nina setelah saya pulang dari Inggris dan kembali bekerja di Jakarta. Sebelumnya meski kami bekerja di LSM yang sama, saya hanya mengenalnya sebagai staff kantor program Ujung Kulon, sedangkan saya waktu itu di Program Riau. Setahun sebelum saya berangkat sekolah, saya dipindahtugaskan dari Riau ke Jakarta. Jadi saya sempat numpang beberapa hari di kamar Kos Nina sebelum saya mendapatkan kamar Kos sendiri. Selama setahun di kantor Jakarta pun sebenarnya saya tidak intens bergaul dengan Nina. Tapi kelebihan Nina yang banyak orang (termasuk saya) tidak miliki adalah keluwesannya dalam bergaul. She is really warm, super friendly, very smart, open, and a lot of fun, yang membuat orang-orang termasuk saya merasa tidak kikuk karena kita sudah lama berteman. 

Hidup bersama di satu unit apartemen kami langsung menyesuikan diri dengan ritme dan kesukaan masing-masing. Setiap bulan saya memasukkan uang beberapa ratus ribu untuk biaya laundry, gas, dan air minum. Setiap bulan Nina menyetor uang ke pemilik unit yang kami sewa untuk membayar tagihan listrik dan gas.Semua kebutuhan perlengkapan kamar mandi, mencuci dan bersih-bersih selalu distok Nina. Sedangkan isi kulkas saya lah yang menyediakan. Untuk semua biaya kebutuhan rumah tangga, makan dan transportasi kami tidak pernah hitung-hitungan. Saya tidak pernah tahu berapa Rp yang sudah Nina keluarkan untuk semua biaya itu tiap bulannya. Saya juga tidak pernah mengatakan berapa Rp yang sudah terpakai untuk bayar ini-itu. Kami tidak pernah buat kesepakatan khusus tentang pembiayaan ini, rasanya mengalir begitu aja sejak awal kenal dan berteman. 

Untuk urusan laundry, saya dan Nina bergantian mengurusnya, tapi Nina yang lebih sering handle; mulai dari memasukkan semua pakaian ke kantong laundry sesuai warna dan tipe pakaiannya (kemeja vs dress, etc.), dan memanggil abang laundry untuk menjemput ataupun mengantarkan pakaian yang telah selessai dicuci setrika.Tugas saya mengisi botol-botol sampo, sabun, kertas toilet dengan bahan yang sudah ada. Kantong plastik yang kami peroleh setiap berbelanja kebutuhan rumah, saya lipat dengan rapih dan masukkan ke laci untuk nanti digunakan sebagai kantong sampah. Saya juga memastikan bahwa sampah kami pilah menjadi dua; sampah kertas-karton-kaca-aluminium di satu tempat, dan sampah lainnya di tempat yang berbeda. 

Untuk urusan fashion, Nina juaranya. Ibuku bilang Nina berpakaian seperti pramugari; stylish dan cantik. Setiap pagi Nina memastikan saya memakai pakaian yang sesuai, menurut tempat dan acara, serasi warna baju dengan jilbab. Kecuali hari jumat dan hanya ke kantor tanpa ada rapat, maka saya dibolehkan memakai pakaian yang lebih casual. 

Saya menikmati memasak seperti halnya Nina menikmati beres-beres. Begitupun sebaliknya, saya menghindari beres-beres seperti halnya Nina menghindari memasak. Kami sama-sama menyukai masakan rumahan. Nina pecinta kikil dan sayur labu siam, saya pecinta ati ayam. Saya selalu bersemangat memakan sarapan dan sebisa mungkin menghindari makan malam, Nina sering merasa tak tertarik untuk sarapan dan sering kelaparan saat malam sehingga makan malam baginya adalah wajib.

Kami berdua penggila sayur dan sambel yang sangat sangat pedas. Setiap kali saya membuat sambel, seharian unit kami berbau cabe dan terasi. Di bulan-bulan awal tinggal bersama, hampir setiap hari saya masak dan kami bawa bekal makan siang ke kantor. Sekitar 3-4 bulan berikutnya semua pakaian mulai terasa sesak di badan. Menyusul kemudian komentar dari keluarga kami bahwa kami berdua telah menggendut! hahaha.. sejak itu kami putuskan untuk tidak bawa bekal makan ke kantor. Saya pun hanya menyiapkan sarapan dan masak di akhir pekan. Di kala Ramadhan, ketika kami tidak ada acara buka puasa di luar, maka kami akan makan masakan saya. Tanggung jawab saya hanya memasak, sedangkan menu setiap hari ditentukan oleh Nina. Untuk sahur, setiap jam 3 pagi, Nina akan membangunkan saya dan dia kembali tidur. Sejam kemudian setelah semua masakan siap, saya membangunkan Nina dan kami pun makan sahur bersama. 

Nina selalu memastikan bahwa unit kami selalu bersih, rapi dan wangi. Setiap kali AC perlu diservis atau perlu pest control untuk kecoa-kecoa kecil yang bandel, selalu diurus oleh Nina. Saya pernah mencoba mengurusnya dan saya nyerah! Menurut saya, prosesnya terlalu bertele-tele dan lama! Begitu diurus oleh Nina, sepertinya cuma 10 menit dan langsung beres, hahaha. Jempol deh buat dia. Di akhir pekan kala kami sama-sama tidak ada agenda ke lapangan atau agenda dengan sirkel lain, kami menghabiskan waktu di apartemen dengan nonton dan skincare-an. Sesekali kami juga nonton dan makan bertiga dengan Nanski, teman kami di WWF yang juga tinggal di apartemen yang sama namun beda tower. Biasanya kami makan di warung Jepang di tower cendana atau mi aceh bang jally di tower damar. 

Kata orang hidup di ibukota itu harus siap mental karena kerasnya tantangan yang dilontarkan dan ibukota lebih kejam dari ibutiri, hehe. syukurnya saya menjalaninya dengan cukup nyaman karena tinggal bersama Nina. Seandainya Nina ini laki-laki atau saya yang laki-lakinya, sudah pasti saya akan ajak menikah. Tapi pasti dia tolak sih hahah karena dia sukanya kalau pasangannya itu tinggi sementara saya nyaris semekot - kependekan dari semeter kotor alias orang-orang dengan tinggi tak lebih dari 155 cm.

Setelah 2 tahun hidup bersama Nina, saya akhirnya keluar dari apartemen unit 6 CP itu untuk hidup bersama pasangan saya yang inisialnya juga CP, haha kebetulan sekali! Meski tidak berjodoh dengan Nina sebagai pasangan, doa saya untuknya adalah dia selalu sehat, bahagia dan bersama pasangan yang secara kualitas setara dengannya. Dan untuk diri saya sendiri, saya berharap dijodohkan dengan seseorang yang tinggal bersamanya sama menyenangkan seperti tinggal bersama Nina. 

Sesekali kami masih bertemu, melepas rindu sembari menikmati masakan pedas. Setiap kali bertemu dengan Nina, setiap kali itu pula dia membuatku kagum. Dia sungguh seseorang dengan kualitas yang luar biasa! Sehat-sehat selalu ya, Neng. Sampai ketemu di perjalanan mengejar sunrise berikutnya!