Pages

Friday, May 17, 2019

kami (seperti) pasangan ideal

Sejak bulan Februari 2014 saya menyewa satu unit apartemen di daerah Jakarta Selatan. Saya tidak sendiri melainkan berdua dengan seorang teman. Namanya Nina. Nama julukannya sempat ada beberapa, yang cukup terkenal adalah Kinoy, Miss Rhino dan Miss Pantura. Kini ia lebih suka dipanggil dengan sebutan Miss Indonesia, julukan yang disematkan padanya oleh tour guide saat kami berlibur ke Thailand. Lebih pas sih dengan Miss Indonesia karena julukan 'Miss Pantura' mah udah ketinggalan angkot alias udah ga cocok. 

Unit apartemen yang kami sewa ukurannya 36m2 dan memiliki 2 kamar; satu kamar utama dan satu kamar ukuran lebih kecil. Sudah full furnished, dapur lengkap dengan kulkas, tempat tidur beserta lemari, sofa kecil plus dengan tv nya. 

Awalnya saya mengira saya akan mendiami kamar yang lebih kecil. Saya pun tidak masalah sama sekali, karena barang saya lebih sedikit dibanding barang milik Nina sehingga dia pasti membutuhkan kamar utama yang ukurannya lebih besar. Namun, Nina memutuskan untuk kami berdua tidur di kamar yang sama, di ranjang yang sama yang kebetulan ukurannya 160 x 200 cm, family size. Saya sebenarnya sedikit kaget karena terus terang saya belum begitu lama kenal dekatnya dengannya. Khawatir juga dia ga terbiasa berbagi kamar apalagi berbagi kasur. Kalau saya sih dari kecil sampai kuliah pun memang selalu berbagi kamar berbagi kasur karena dana terbatas. Nah saya mulai dekat dengan Nina setelah saya pulang dari Inggris dan kembali bekerja di Jakarta. Sebelumnya meski kami bekerja di LSM yang sama, saya hanya mengenalnya sebagai staff kantor program Ujung Kulon, sedangkan saya waktu itu di Program Riau. Setahun sebelum saya berangkat sekolah, saya dipindahtugaskan dari Riau ke Jakarta. Jadi saya sempat numpang beberapa hari di kamar Kos Nina sebelum saya mendapatkan kamar Kos sendiri. Selama setahun di kantor Jakarta pun sebenarnya saya tidak intens bergaul dengan Nina. Tapi kelebihan Nina yang banyak orang (termasuk saya) tidak miliki adalah keluwesannya dalam bergaul. She is really warm, super friendly, very smart, open, and a lot of fun, yang membuat orang-orang termasuk saya merasa tidak kikuk karena kita sudah lama berteman. 

Hidup bersama di satu unit apartemen kami langsung menyesuikan diri dengan ritme dan kesukaan masing-masing. Setiap bulan saya memasukkan uang beberapa ratus ribu untuk biaya laundry, gas, dan air minum. Setiap bulan Nina menyetor uang ke pemilik unit yang kami sewa untuk membayar tagihan listrik dan gas.Semua kebutuhan perlengkapan kamar mandi, mencuci dan bersih-bersih selalu distok Nina. Sedangkan isi kulkas saya lah yang menyediakan. Untuk semua biaya kebutuhan rumah tangga, makan dan transportasi kami tidak pernah hitung-hitungan. Saya tidak pernah tahu berapa Rp yang sudah Nina keluarkan untuk semua biaya itu tiap bulannya. Saya juga tidak pernah mengatakan berapa Rp yang sudah terpakai untuk bayar ini-itu. Kami tidak pernah buat kesepakatan khusus tentang pembiayaan ini, rasanya mengalir begitu aja sejak awal kenal dan berteman. 

Untuk urusan laundry, saya dan Nina bergantian mengurusnya, tapi Nina yang lebih sering handle; mulai dari memasukkan semua pakaian ke kantong laundry sesuai warna dan tipe pakaiannya (kemeja vs dress, etc.), dan memanggil abang laundry untuk menjemput ataupun mengantarkan pakaian yang telah selessai dicuci setrika.Tugas saya mengisi botol-botol sampo, sabun, kertas toilet dengan bahan yang sudah ada. Kantong plastik yang kami peroleh setiap berbelanja kebutuhan rumah, saya lipat dengan rapih dan masukkan ke laci untuk nanti digunakan sebagai kantong sampah. Saya juga memastikan bahwa sampah kami pilah menjadi dua; sampah kertas-karton-kaca-aluminium di satu tempat, dan sampah lainnya di tempat yang berbeda. 

Untuk urusan fashion, Nina juaranya. Ibuku bilang Nina berpakaian seperti pramugari; stylish dan cantik. Setiap pagi Nina memastikan saya memakai pakaian yang sesuai, menurut tempat dan acara, serasi warna baju dengan jilbab. Kecuali hari jumat dan hanya ke kantor tanpa ada rapat, maka saya dibolehkan memakai pakaian yang lebih casual. 

Saya menikmati memasak seperti halnya Nina menikmati beres-beres. Begitupun sebaliknya, saya menghindari beres-beres seperti halnya Nina menghindari memasak. Kami sama-sama menyukai masakan rumahan. Nina pecinta kikil dan sayur labu siam, saya pecinta ati ayam. Saya selalu bersemangat memakan sarapan dan sebisa mungkin menghindari makan malam, Nina sering merasa tak tertarik untuk sarapan dan sering kelaparan saat malam sehingga makan malam baginya adalah wajib.

Kami berdua penggila sayur dan sambel yang sangat sangat pedas. Setiap kali saya membuat sambel, seharian unit kami berbau cabe dan terasi. Di bulan-bulan awal tinggal bersama, hampir setiap hari saya masak dan kami bawa bekal makan siang ke kantor. Sekitar 3-4 bulan berikutnya semua pakaian mulai terasa sesak di badan. Menyusul kemudian komentar dari keluarga kami bahwa kami berdua telah menggendut! hahaha.. sejak itu kami putuskan untuk tidak bawa bekal makan ke kantor. Saya pun hanya menyiapkan sarapan dan masak di akhir pekan. Di kala Ramadhan, ketika kami tidak ada acara buka puasa di luar, maka kami akan makan masakan saya. Tanggung jawab saya hanya memasak, sedangkan menu setiap hari ditentukan oleh Nina. Untuk sahur, setiap jam 3 pagi, Nina akan membangunkan saya dan dia kembali tidur. Sejam kemudian setelah semua masakan siap, saya membangunkan Nina dan kami pun makan sahur bersama. 

Nina selalu memastikan bahwa unit kami selalu bersih, rapi dan wangi. Setiap kali AC perlu diservis atau perlu pest control untuk kecoa-kecoa kecil yang bandel, selalu diurus oleh Nina. Saya pernah mencoba mengurusnya dan saya nyerah! Menurut saya, prosesnya terlalu bertele-tele dan lama! Begitu diurus oleh Nina, sepertinya cuma 10 menit dan langsung beres, hahaha. Jempol deh buat dia. Di akhir pekan kala kami sama-sama tidak ada agenda ke lapangan atau agenda dengan sirkel lain, kami menghabiskan waktu di apartemen dengan nonton dan skincare-an. Sesekali kami juga nonton dan makan bertiga dengan Nanski, teman kami di WWF yang juga tinggal di apartemen yang sama namun beda tower. Biasanya kami makan di warung Jepang di tower cendana atau mi aceh bang jally di tower damar. 

Kata orang hidup di ibukota itu harus siap mental karena kerasnya tantangan yang dilontarkan dan ibukota lebih kejam dari ibutiri, hehe. syukurnya saya menjalaninya dengan cukup nyaman karena tinggal bersama Nina. Seandainya Nina ini laki-laki atau saya yang laki-lakinya, sudah pasti saya akan ajak menikah. Tapi pasti dia tolak sih hahah karena dia sukanya kalau pasangannya itu tinggi sementara saya nyaris semekot - kependekan dari semeter kotor alias orang-orang dengan tinggi tak lebih dari 155 cm.

Setelah 2 tahun hidup bersama Nina, saya akhirnya keluar dari apartemen unit 6 CP itu untuk hidup bersama pasangan saya yang inisialnya juga CP, haha kebetulan sekali! Meski tidak berjodoh dengan Nina sebagai pasangan, doa saya untuknya adalah dia selalu sehat, bahagia dan bersama pasangan yang secara kualitas setara dengannya. Dan untuk diri saya sendiri, saya berharap dijodohkan dengan seseorang yang tinggal bersamanya sama menyenangkan seperti tinggal bersama Nina. 

Sesekali kami masih bertemu, melepas rindu sembari menikmati masakan pedas. Setiap kali bertemu dengan Nina, setiap kali itu pula dia membuatku kagum. Dia sungguh seseorang dengan kualitas yang luar biasa! Sehat-sehat selalu ya, Neng. Sampai ketemu di perjalanan mengejar sunrise berikutnya! 







Saturday, March 17, 2018

di mana saya memompa asi?

Perkara memompa asi ini memang sebuah tantangan bagi ibu menyusui seperti saya. Tantangannya kira-kira setara lah dengan Sasuke Ninja Warrior!🙀😸 Yang kerjanya di kantor dan kantornya menyediakan ruangan khusus ibu menyusui, tentunya urusan memompa asi menjadi lebih mudah. Karena saya bekerja di kantor dan di lapangan, maka tempat-tempat saya memompa asi jadi beragam, mulai dari:

1. Gudang kantor: apapun level perusahannya; lokal, nasional, multi-nasional atau global, belum semua perusahaan menyediakan tempat khusus untuk ibu menyusui, termasuk kantor saya yang multinasional ini. Jadilah saya memompa asi di gudang kantor. 

2. Musholla: bukan tempat untuk memompa asi sejatinya, tapi karena kantor tidak menyediakan, beberapa kali saat lihat ibu-ibu posisi duduk kepala menunduk dengan telekung menutup muka menutup badan, memompa asi. Alhasil ketika saya punya bayi dan bosan dengan memompa di gudang, saya mencoba Musholla. Ternyata sangat tidak nyaman! posisi duduk dengan kepala menunduk selama beberapa menit saja bikin pegal, apalagi untuk sepanjang durasi memompa asi yang biasanya sampai 10-15 menit atau bahkan lebih, ga kebayang deh itu pegalnya gimana. Kadang saya merasa aneh juga, gedung kantor bisa sediakan musholla yang lumayan bagus dan lapang, tapi menyediakan ruang laktasi kenapa engga ya?

3. Ruang bekas kantor: waktu itu ada pembenahan dan perubahan susunan atau layout kantor. Selama masa pembenahan, ada ruang yang tadinya adalah ruang kerja menjadi ruang kosong. Setelah OB kantor bilang ruang itu bisa saya pakai, jadilah saya migrasi dari gudang kantor yang sempit ke ruang yang tak terpakai itu. Lebih lega dan dapat pemandangan langsung ke luar. Menjadi lebih asyik ketika dapat teman sesama pejuang ibu asi dari kantor lain di lantai atas. Kebetulan ketemu pas di Musholla saat dia sedang mompa jadi saya ajakin deh mompa bareng. 

4. Mobil: biasanya ini dalam perjalanan berangkat ke kantor atau kembali ke rumah. Ini pun dalam situasi sedang berada di Jakarta dan naik mobil sendiri. Tenang, disini maksudnya saya pakai Supri ya alias Suami supirin, bukan saya sambil nyetir trus mompa asi juga, wah meski terdengar heroik tapi jangan ya, bahaya. Nyetir sambil pegang hp aja ga boleh apalagi sambil mompa asi. Saat di lapangan, beberapa kali saya juga memompa asi di mobil yang kami rental, seringnya ketika waktu istirahat dan mobil bisa saya pakai seorang diri. Pernah juga saat di lapangan saat di Jalan, karena sudah waktunya mompa dan payudara saya sudah mulai keras, terpaksa mompa asi juga. Itu pas posisi duduk di baris belakang dan hanya berdua dengan bu Boss. Daripada bengkak iya kan, ya sudah mompa aja. Pas juga saat itu jalanan bumpy jadi suara pompa tersamarkan oleh suara mesin kendaraan. 

5. Toilet: sepertinya hampir semua toilet sudah pernah saya cobain atau lebih tepatnya saya pakai sebagai ruang untuk mompa asi. Di awal-awal saya mompa asi di kantor, saya sempat nyobain mompa di toilet. Ini melanggar aturan higenitas yang merupakan syarat untuk asi. terpaksa nyobain karena ruang gudang kantor itu penuh barang (ya iya dong namanya juga gudang dong) jadi sesak banget gitu lho. Ternyata mompa di toilet tidak kalah tidak nyamannya. Satu jelas karena status higenitas, kedua kalau pas di bilik sebelah lagi buang air besar dan baunya kecium seketika mempengaruhi mood, dan ketiga ga enak lama-lama di dalam bilik saat di luar orang-orang lagi ngantri. Udah mood berantakan terpaksa deh cepat-cepat nyudahin mompa, ga maksimal jadinya dapat asinya. Toilet hotel pernah nyobain pas musti ikut acara atau kegiatan apa gitu lupa deh dan hotelnya tidak menyediakan ruang laktasi. Kalau toilet di dekat ruang-ruang seminar/rapat itu suka ramai dipakai peserta yang ikut seminar jadi lebih pilih toilet yang satu lantai dengan reception hotel karena biasanya lebih sepi. Kalau toilet bandara ini pengalaman waktu di Kaltim tepatnya di bandara Balikpapan. Bandaranya padahal gede dan baru selesai renovasi tapi entah kenapa tidak langsung menyediakan ruang laktasi. Kalau ga salah sekali atau dua kali saya harus pakai toilet untuk mompa. Syukurnya kali berikutnya lewat bandara itu sudah tersedia ruang laktasi dan kegiatan mompa asi pun lebih nyaman. Ruang laktasi ini fasilitas wajib ada di bandara jadi kalau ada bandara yang ga menyediakan itu berarti tidak sesuai standar. 

6. Pos Satpam: cukup sekali aku memompaaaa di dalam Pos Satpam (dibaca pakai nada lagu bang Haji Rhoma 😁). Ini kejadian waktu kegiatan lapangan di site Kaltim bersama tamu (lupa deh tamu dari mana, WWF Kaltim kalau ga salah). Kami sudah selesai ngecek lapangan dan karena jarak dari Blok 2 ke kantor Blok 1 itu sekitar 2 jam sementara jadwal mompa asi sudah lewat sejam, saya minta berhenti sebentar di Pos Satpam untuk mompa. Mompa di mobil sudah kurang nyaman waktu itu, saya butuh ruang yang lebih lega. Jadi minta izin ruang tidurnya satpam yang berada di satu bangunan pos satpam saya pakai untuk mompa. Lumayan badan bisa nyender dan kedua kaki bisa selonjoran. Yang begini aja sudah bisa buat mompa asi lebih nyaman.  

7. Hutan: tempat ternikmat untuk mompa asi! udara segar, pemandangan pohon-pohon dan daun-daunnya yang hijau menyejukkan mata, angin semilir hutan yang sejuk, suara dari berbagai serangga  hutan utamanya Cicada yang bernada Zzzz Zzzz  Zzzzz ... serta sesekali suara burung yang menemani. Ah benar-benar tempat yang terbaik untuk mompa asi! baik di Hutan Mandelang di Jambi maupun hutan Blok 2 di Kaltim kedua-duanya sudah saya manfaatkan sebagai ruang laktasi. Jadi kalau ada yang tanya manfaat hutan yang tidak banyak orang ketahui, segera saya jawab, ruang laktasi termantap!😁

Sejatinya Ruang Laktasi itu adalah fasilitas standar atau fasilitas yang sewajarnya ada, bukan suatu kemewahan. Sudah diatur lho oleh Undang-undang dan Peraturan di negeri ini, tepatnya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 15 Tahun 2013.  Mungkin ya kalau saja semua tempat kerja terutama kantor/ gedung kantor dan semua fasilitas umum seperti Bandara, Terminal, Museum, dll menyediakan Ruang Laktasi, kegiatan memompa asi atau menyusui anak tak lagi menantang seperti Ninja Warrior itu. Kebalikannya, justru menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus menyehatkan untuk para Ibu. Coba deh tanya mbah Gugel, syarat untuk asi banyak ya ibunya harus moodnya bagus alias Happy. Asi yang banyak tentu supply yang bagus untuk anak. Menyehatkan karena asi kalau sudah waktunya ya harus dikeluarkan; dipompa atau disusui langsung ke anak. Kalau tidak, payudara bisa bengkak dan menjadi infeksi dan itu sungguh sungguh sakitnya tiada tara. 

Mungkin ya untuk para perempuan pekerja atau semua pekerja deh laki-laki juga termasuk, saat interview pekerjaan atau saat cari-cari tempat untuk kerja berikutnya, tanyakan apakah mereka menyediakan Ruang Laktasi. Saya kira ini bisa jadi satu indikator pemberi kerja/ employer yang baik. 


Saturday, December 3, 2016

Hamil dan Bekerja

Sebelum saya dan suami menikah, kami telah merencanakan untuk segera punya anak, mengingat kami berdua juga sudah berumur kepala 3.  Alhamdulillah keinginan dan rencana kami direstui oleh Yang Maha Kuasa.  Setelah menikah dan haid pertama pasca menikah tuntas, saya dinyatakan positif hamil. Oiya karena bidang pekerjaan saya mengharuskan saya banyak di lapangan, keluar masuk hutan, sebelum menikah saya mengusulkan kepada pasangan untuk melakukan Tes Pra Nikah atau Pre-Marital Check-Up, tujuannya untuk mengetahui kondisi kesehatan kami berdua, terutama saya yang selain kerjanya di hutan, juga punya peliharaan kucing di rumah. Dari kecil saya memang pelihara kucing, bahkan semasa masih tinggal di Pekanbaru, saya pernah punya 13 ekor kucing sekaligus! hihi.. rame. Nah, saya agak khawatir pekerjaan dan peliharaan saya telah membawa pengaruh negatif yang tidak saya ketahui bersemayam di tubuh saya dan berpotensi memberi dampak kepada anak saya nanti. Saya dan pasangan melakukan pre marital check-up sekitar 3 bulan sebelum kami menikah, ini untuk mengantisipasi jika ternyata ada masalah dengan kondisi kesehatan kami, terutama saya, maka ada waktu 3 bulan untuk melakukan pengobatan. Di saya sendiri terutama untuk hasil TORCHnya, ditemukan beberapa infeksi tapi Dokter Ginekologi (Obgyn) menjelaskan ke saya bahwa status infeksinya sudah lampau jadi tidak ada yang perlu saya khawatirkan, tidak perlu ada pengobatan apapun, cukup jaga kondisi dan InsyaAllah sehat untuk punya anak, Alhamdulillah. Untuk cerita lengkap tentang tes ini, sila cek tulisan suami saya disini.

Nah, kembali ke judul postingan, hamil dan bekerja. Ya, saya masih aktif bekerja di sepanjang kehamilan saya. Begitu dinyatakan positif hamil (usia kehamilan 5 minggu) saya minta saran ke Obgyn cara menjaga kehamilan karena minggu berikutnya saya harus ke lapangan; masing-masing ke Jambi dan Kalimantan Timur. Kebetulan ada calon donor dari Perancis yang akan melakukan scooping (penilaian awal) terhadap proyek kami sehingga ini adalah Perjalanan Dinas yang agak sulit saya tinggalkan. Obgyn nya mengatakan, pada umumnya ibu hamil disarankan untuk tidak bepergian jauh (dengan pesawat terbang) ketika kehamilan di bawah 13 minggu dan setelah 30 minggu karena kedua masa itu adalah masa rentan bagi kehamilan. Tapi jika perjalanan tersebut tidak dapat dihindarkan, oleh Obgyn saya diberi vitamin penguat kandungan (saya lupa merknya) dan vitamin folic acid (merk Folamil Genio) yang harus saya konsumsi masing-masing 1 tablet/hari. Saya juga diminta untuk minum air putih yang banyak dan tidak membatasi makanan, kecuali makanan setengah matang/tidak matang dan yang dibakar yang harus dihindari.

Selain bekal vitamin dan nasihat dari Obgyn, saya juga googling untuk persiapan perjalanan dalam kondisi hamil muda ini. Beberapa hal yang saya peroleh dan praktikkan adalah:
1. Memilih tempat duduk (dalam pesawat) di bagian sayap di koridor. Bagian ini adalah bagian dengan guncangan paling kecil dibanding bagian lainnya.
2. Banyak minum selama perjalanan di pesawat
3. Konsumsi kurma sebanyak 3-4 buah/hari

Sekembalinya saya dari lapangan, saya segera cek kandungan lagi ke Obgyn. Deg2an juga karena saat berada di Kaltim, sempat keluar darah saat saya buang air kecil, tidak banyak sih tapi tetap bikin khawatir ya. Saya pun langsung googling dan hasilnya flek atau darah yang keluar saat hamil muda dapat dikarenakan dua hal: pertama itu adalah indikasi bahwa terjadi proses perlekatan sel telur yang dibuahi oleh dinding rahim, artinya ini hal positif yang menandakan kehamilan dan tidak berbahaya. Hal kedua dan yang harus diwaspadai adalah ketika keluar darah yang banyak atau disertai kram perut karena merupakan indikasi keguguran, hamil anggur, atau kehamilan ektopik. Lebih jelasnya bisa cek disini.

Alhamdulillah hasil periksa menyatakan kondisi kandungan saya baik, usianya masuk 7 minggu. Beberapa hari berikutnya saya malah yang terkapar, batuk dan flu berat melanda. Jadilah saya minta izin dari kantor untuk istirahat di rumah. Awalnya hanya izin 2 hari namun karena tidak kunjung membaik, saya periksa ke Dokter jaga di bagian IGD, selain diberi obat, saya juga diberi surat keterangan sakit untuk 3 hari, jadilah saya istirahat di rumah selama seminggu penuh.

Sedikit tentang obat flu dan batuk saat hamil: ketika periksa, saya dan suami sudah menginformasikan ke Dokter bahwa saya sedang hamil 7 minggu, jadi mohon diberi obat yang aman saya konsumsi. Waktu itu saya belum punya nomor telpon Obgyn saya jadi tidak bisa berkonsultasi ke beliau. Karena merasa sudah menginformasikan kehamilan saya ke Dokter tersebut, saya merasa aman saja dengan 3 jenis obat yang diberikan. Ketiga obatnya sudah sempat saya konsumsi satu kali sebelum saya iseng untuk membaca kandungan obat dan kontradiksinya dan jeng..jeng... ada satu obat yang jelas tidak dianjurkan untuk kehamilan muda, sedang dua obat lainnya ketika saya telusuri informasinya di internet hasilnya adalah masih pro kontra terkait keamanannya untuk kehamilan tapi lebih banyak menyarankan untuk tidak dikonsumsi. waduh! langsung panik, telp suami, suami telp RS dan komplain! obatnya pun saya singkirkan dan saya fokus untuk makan dan istirahat saja untuk menaklukkan flu dan batuk yang melanda. Pelajaran juga sih kalau harus membiasakan membaca kandungan dan kontradiksi obat sebelum obatnya dikonsumsi ya bukan setelah!

Biasanya saya rutin tiap bulan ke lapangan, 10-12 hari di Jambi dan 7-8 hari di Kaltim. Berhubung hamil muda dan perjalanan dinas regular termasuk tidak urgent jadi saya menunggu sampai masa rentan lewat untuk ke lapangan. Masuk kehamilan minggu 14 baru saya ke lapangan lagi tapi dengan durasi yang lebih singkat dari biasanya, masing-masing hanya 5 hari. Sebelum berangkat pun saya periksa ke Obgyn dulu untuk tahu kondisi saya dan janin. Sayangnya Obgyn yang biasa menangani saya sedang tidak masuk praktik, akhirnya saya periksa ke Obgyn lain yang tersedia saat itu. Kondisi saya dan janin OK dan mengetahui saya akan melakukan perjalanan, obat/vitamin yang diresepkan oleh Obgyn kedua ini ternyata banyak banget, ada 5 jenis termasuk obat penguat kandungan yang dimasukkan lewat vagina. Haduh! selama ini saya hanya konsumsi folic acid, obat/vitamin penguat kandungan yang pernah diberikan oleh Obgyn pertama saat kehamilan 5-6 Minggu dikonsumsi lewat mulut, baik-baik saja semua, padahal saat itu malah masa yang rentan. Justru di masa yang aman ini malah dikasih obatnya banyak banget. Mungkin Obgyn nya khawatir kali ya jadi maunya mengantisipasi dengan maksimal. Toh Obgyn yang ini juga baru periksa saya kali pertama, beda dengan Obgyn yang satu lagi yang tahu riwayat kandungan dan fisik saya sejak hamil 5 Minggu.

Karena merasa tidak nyaman dengan sebagian obat yang diberikan, saya hanya konsumsi 2 dari 5 jenis obatnya, Prolacta DHA dan satu lagi untuk kalsium kalau tidak salah. Obat yang untuk penguat kandungan (dikasih 2 jenis) tidak saya konsumsi sama sekali. Prinsip saya, saya harus nyaman dan yakin dengan obat yang dikonsumsi, jika tidak obatnya ga akan ada pengaruhnya ke saya. Syukur tanpa mengkonsumsi 2 jenis obat penguat kandungan itu, kondisi saya baik dan janin saya aman selama dan setelah perjalanan dinas. Saya terus melakukan kunjungan lapangan ke Jambi dan Kaltim secara bergantian hingga usia kehamilan 6 bulan. Sebenarnya saya masih ingin terus ke lapangan selama masih bisa dan diperbolehkan terbang, namun dari GM HRD meminta saya untuk tidak ke lapangan lagi. Terakhir kami ketemu pas di site Kaltim dia memang heran sih lihat saya masih ke site, masih ke hutan.

Saya termasuk beruntung dengan kondisi kehamilan yang tidak banyak keluhan. Mulai dari awal kehamilan hingga menjelang melahirkan, hamil tidak menghalangi saya bekerja dan berkegiatan di lapangan. Kalaupun ada keluhan, hanya ketika saya flu berat di trimester 1 dan trimester 3, selebihnya aman. Saya pernah baca bahwa wanita dengan fisik yang baik, biasanya pada saat hamil akan lebih sedikit mengalami mual dan muntah, kram, pusing, cepat lelah, tidak ada nafsu makan, keluhan-keluhan yang umum dirasakan oleh ibu hamil terutama di trimester pertama. Dan saya memang tidak mengalami sebagian besar keluhan-keluhan itu, kecuali mual, itupun hanya mual ringan. Ternyata jalan-jalan saya di hutan selama sekian tahun ini membantu saya memiliki fisik yang kuat! alhasil hamil pun tidak ada kendala berarti. Ayo ibu-ibu yang ingin dan sedang rencana hamil, perkuat fisik ya, rajin olahraga dan kurangi makan gorengan! fisik kuat, hamil sehat, kerja nyaman 😄